Kebiasaan Sepele

Kebiasaan Sepele yang Diam-diam Merusak Postur Tubuh Harian

Kebiasaan Sepele yang Diam-diam Merusak Postur Tubuh Harian
Kebiasaan Sepele yang Diam-diam Merusak Postur Tubuh Harian

JAKARTA - Postur tubuh sering kali baru menjadi perhatian ketika rasa pegal, nyeri, atau kaku mulai muncul. Padahal, perubahan postur biasanya terjadi secara perlahan akibat kebiasaan kecil yang dilakukan berulang setiap hari. 

Tanpa disadari, rutinitas sederhana seperti menatap layar gawai, duduk terlalu lama, hingga memilih sepatu yang kurang tepat dapat memberi tekanan berlebih pada tulang dan sendi.

Postur tubuh yang buruk bukan sekadar persoalan estetika. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu gangguan pada leher, bahu, punggung, hingga pinggul. Ketidakseimbangan beban pada tubuh juga berpotensi menyebabkan nyeri kronis yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Dengan memahami kebiasaan sepele yang berdampak buruk bagi postur, setiap orang dapat mulai melakukan koreksi sejak dini. Dilansir dari Real Simple, berikut sejumlah kebiasaan harian yang tanpa disadari berkontribusi pada kerusakan postur tubuh.

Kebiasaan Saat Menggunakan Perangkat Digital

Di era digital, aktivitas menatap layar sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian. Banyak orang terbiasa mencondongkan kepala ke depan saat melihat layar laptop atau ponsel. Kebiasaan ini dikenal dengan istilah tech neck dan menjadi salah satu penyebab utama memburuknya postur tubuh modern.

Menurut ahli kiropraktik Sherry McAllister, semakin condong posisi kepala ke depan dari titik tumpu bahu, semakin besar tekanan yang diteruskan ke tulang belakang.
“Inilah yang sering dikeluhkan pasien terkait titik-titik nyeri di bahu dan leher bagian bawah,” ujarnya.

Dalam jangka panjang, posisi kepala yang terus condong ke depan dapat mengubah lengkungan alami leher. Beban tubuh bergeser ke bahu dan punggung atas, sehingga meningkatkan risiko nyeri otot dan ketegangan sendi. 

Untuk mengurangi dampaknya, posisi layar sebaiknya sejajar dengan pandangan mata agar leher tidak terbebani secara berlebihan.

Pola Duduk yang Terlalu Lama

Aktivitas kerja dan gaya hidup saat ini membuat banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam dalam posisi duduk. Sayangnya, duduk terlalu lama dapat membuat otot-otot penyangga postur menjadi lelah. Akibatnya, tubuh cenderung membungkuk dan tidak lagi mengikuti lengkungan alami tulang belakang.

Kondisi ini dapat memicu rasa pegal pada punggung, leher, bahu, hingga tulang ekor. Jika dibiarkan terus-menerus, duduk lama dengan postur yang salah dapat memperparah ketegangan otot dan meningkatkan risiko gangguan muskuloskeletal.

Untuk meminimalkan dampaknya, penting memilih tempat duduk dengan bantalan yang cukup kokoh, penyangga punggung yang baik, serta tinggi kursi yang memungkinkan kaki menapak rata di lantai. 

Posisi duduk yang tepat membantu mendistribusikan beban tubuh secara seimbang dan mengurangi tekanan pada area tertentu.

Posisi Istirahat dan Aktivitas Fisik

Postur tubuh tidak hanya dipengaruhi oleh aktivitas saat terjaga, tetapi juga oleh posisi tubuh ketika beristirahat. Salah satu kebiasaan yang kerap dianggap sepele adalah tidur tengkurap. Posisi ini membuat leher otomatis menoleh ke satu sisi dalam waktu lama, sehingga memicu ketegangan otot leher dan bahu.

Alih-alih tidur tengkurap, posisi telentang dinilai lebih ideal karena membuat tubuh sejajar dan meminimalkan tekanan pada tulang serta otot. McAllister juga menekankan pentingnya penggunaan bantal dengan tinggi yang tepat agar mampu menopang lengkungan alami tulang belakang.

Selain itu, aktivitas olahraga juga berperan besar dalam menjaga postur. Olahraga memang menyehatkan, tetapi teknik dan postur yang salah justru dapat menimbulkan masalah. 

Punggung yang terlalu membungkuk saat plank, sit-up, atau squat dapat menyebabkan nyeri, otot tegang, bahkan cedera. Oleh karena itu, memahami teknik gerakan yang benar menjadi kunci agar olahraga memberi manfaat, bukan sebaliknya.

Pilihan Alas Kaki dan Dampaknya

Sepatu yang dikenakan setiap hari turut memengaruhi postur tubuh secara keseluruhan. Alas kaki yang tidak menopang kaki dengan baik dapat mengganggu keseimbangan tubuh dan memicu perubahan postur.

Penggunaan sepatu hak tinggi dalam waktu lama, misalnya, dapat menggeser posisi panggul ke depan dan menciptakan ketidakseimbangan otot. 

Di sisi lain, sepatu dengan sol datar tanpa dukungan lengkungan kaki juga berisiko mengurangi stabilitas. Tekanan pun akan diteruskan ke pergelangan kaki, lutut, hingga pinggul bawah.

Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, nyeri kaki dan gangguan postur tubuh dapat muncul. Untuk itu, disarankan memilih sepatu dengan penyangga lengkungan kaki, bantalan tumit yang memadai, serta sol yang stabil agar mampu menyerap benturan dan mendukung postur tubuh secara optimal.

Dengan menyadari berbagai kebiasaan sepele tersebut, setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki postur tubuh sejak dini. Perubahan kecil dalam rutinitas harian dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan tulang dan sendi dalam jangka panjang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index