MDKA Targetkan Lonjakan Produksi Emas Signifikan Tahun 2026

Rabu, 04 Februari 2026 | 12:07:03 WIB
MDKA Targetkan Lonjakan Produksi Emas Signifikan Tahun 2026

JAKARTA - Momentum pemulihan dan ekspansi sektor pertambangan kembali menguat seiring naiknya permintaan global terhadap komoditas mineral strategis. 

Di tengah dinamika tersebut, PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) menyiapkan langkah agresif untuk meningkatkan produksi emas pada tahun mendatang. 

Strategi ini sejalan dengan kesiapan operasional sejumlah aset tambang utama serta penguatan bisnis mineral lainnya yang menopang pertumbuhan jangka panjang perseroan.

MDKA menargetkan produksi emas pada kisaran 180.000 hingga 205.000 ounces pada 2026. Target tersebut melonjak signifikan dibandingkan realisasi produksi emas sepanjang 2025 yang tercatat sebesar 103.156 ounces. 

Dalam keterangan resmi yang disampaikan 3 Februari 2026, manajemen menyatakan bahwa target produksi emas 2026 tersebut masih menunggu persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari otoritas terkait.

Strategi Pertumbuhan Produksi Emas

Target produksi emas MDKA pada 2026 direncanakan bersumber dari dua aset utama, yakni Tambang Emas Pani dan Tambang Emas Tujuh Bukit. 

Kedua tambang tersebut diproyeksikan menjadi tulang punggung peningkatan volume produksi seiring dengan kesiapan operasional yang semakin matang.

Presiden Direktur Merdeka Copper Gold, Albert Saputro, menyampaikan bahwa pada kuartal IV/2025 perseroan memfokuskan langkahnya pada penguatan platform pertumbuhan sekaligus menjaga stabilitas operasional di seluruh portofolio usaha. Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan transisi menuju fase ekspansi dapat berjalan secara terukur dan berkelanjutan.

“Dengan Tambang Emas Pani yang semakin dekat dengan produksi perdana, kinerja berkelanjutan di Tambang Tujuh Bukit, serta peningkatan skala bisnis nikel kami, Merdeka berada pada posisi yang kuat untuk memasuki fase pertumbuhan berikutnya dan menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan para pemangku kepentingan,” ujarnya.

Manajemen menilai bahwa kesiapan infrastruktur, sumber daya manusia, serta disiplin operasional menjadi faktor kunci dalam mendukung lonjakan produksi emas tersebut. Dengan basis aset yang telah teruji, MDKA optimistis target produksi emas 2026 dapat direalisasikan setelah seluruh perizinan terpenuhi.

Kontribusi Tambang Pani dan Tujuh Bukit

Tambang Emas Tujuh Bukit selama ini menjadi kontributor utama produksi emas MDKA. Stabilitas operasional dan konsistensi kinerja tambang tersebut memberikan fondasi kuat bagi perseroan dalam merancang target produksi yang lebih ambisius.

Sementara itu, Tambang Emas Pani diproyeksikan menjadi sumber pertumbuhan baru. Mendekatnya fase produksi perdana menjadikan tambang ini sebagai elemen penting dalam strategi peningkatan volume emas MDKA pada 2026. Kehadiran Tambang Pani diharapkan dapat melengkapi kapasitas produksi yang telah ada sekaligus memperkuat portofolio emas perseroan.

Dengan kombinasi dua aset tersebut, MDKA memiliki ruang untuk meningkatkan produksi hampir dua kali lipat dibandingkan capaian tahun sebelumnya. 

Namun demikian, manajemen tetap menekankan bahwa seluruh rencana produksi masih bergantung pada persetujuan RKAB serta kondisi operasional di lapangan.

Ekspansi Bisnis Nikel Terus Digenjot

Selain emas, MDKA juga mengincar pertumbuhan signifikan pada bisnis nikel melalui anak usahanya, PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA). 

Untuk 2026, MBMA menargetkan produksi saprolit sebesar 8,0 hingga 10 juta wet metric tonnes (wmt) serta limonit sebesar 20 hingga 25 juta wmt. Sama halnya dengan target emas, rencana produksi nikel ini juga masih menunggu persetujuan RKAB.

Sepanjang 2025, kinerja bisnis nikel menunjukkan tren positif. Tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) yang dikelola MBMA mencatatkan produksi saprolit sebesar 7,0 juta wmt, tumbuh 42 persen secara tahunan. Produksi limonit juga meningkat signifikan menjadi 14,7 juta wmt atau naik 45 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Capaian tersebut mencerminkan keberhasilan perseroan dalam meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi, sekaligus memperkuat peran nikel sebagai salah satu pilar utama pertumbuhan MDKA. 

Manajemen melihat permintaan nikel yang terus meningkat, khususnya dari sektor baterai kendaraan listrik, sebagai peluang strategis yang perlu dimanfaatkan secara optimal.

Penguatan Hilirisasi dan Bisnis Tembaga

Di luar emas dan nikel, MDKA juga terus mengembangkan fasilitas pengolahan hilir sebagai bagian dari strategi integrasi rantai nilai. Proyek-proyek hilirisasi seperti NPI, AIM, dan HPAL dilaporkan berkembang sesuai rencana. 

Keberadaan fasilitas tersebut memperkuat posisi Merdeka sebagai pemain terintegrasi dalam rantai pasok bahan baku baterai, sekaligus mendukung peran Indonesia dalam transisi energi global.

Pada lini bisnis tembaga, MDKA melaporkan kinerja Tambang Tembaga Wetar yang tetap solid. Produksi tembaga pada kuartal IV/2025 tercatat sebesar 2.990 ton, sehingga total produksi sepanjang 2025 mencapai 10.454 ton. Kontribusi tembaga ini melengkapi portofolio mineral MDKA dan memberikan diversifikasi pendapatan di tengah fluktuasi harga komoditas.

Secara keseluruhan, strategi MDKA pada 2026 mencerminkan fokus pada pertumbuhan produksi, penguatan integrasi bisnis, serta penciptaan nilai jangka panjang. 

Dengan kombinasi aset emas, nikel, dan tembaga, perseroan menempatkan diri sebagai salah satu pelaku utama dalam industri pertambangan nasional yang siap menjawab tantangan dan peluang global.

Terkini