JAKARTA - Grab Indonesia bersama OVO menghadirkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini menjangkau ribuan siswa di wilayah Tangerang Raya, termasuk siswa berkebutuhan khusus.
Program ini dijalankan melalui kerja sama dengan sekolah, dinas terkait, serta melibatkan UMKM dan mitra pengemudi sebagai bagian dari ekosistem yang saling terhubung.
Chief of Public Affairs Grab Indonesia, Tirza Munusamy, menegaskan bahwa kegiatan ini sepenuhnya merupakan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang didanai swasta, dengan tujuan memperluas jangkauan MBG, khususnya bagi siswa berkebutuhan khusus.
Menurut Tirza, ini menunjukkan bagaimana sektor swasta dapat berperan aktif dalam mendukung kesejahteraan pendidikan sekaligus memberdayakan ekonomi lokal melalui UMKM.
“Kegiatan ini merupakan CSR yang sepenuhnya didanai swasta dan tujuannya juga mendukung program MBG untuk meluaskan jangkauannya kepada teman-teman berkebutuhan khusus,” kata Tirza.
Perluasan Program dan Dampak bagi Sekolah
Program MBG Grab-OVO telah menjangkau sekitar 40 sekolah di Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan, dengan total sekitar 4.500 siswa sejak pertengahan 2025.
Momen ini menandai komitmen penuh perusahaan untuk menjalankan program hingga akhir tahun, bekerja sama dengan sekolah serta dinas pendidikan dan kesehatan setempat.
“Program ini sudah dimulai sejak pertengahan 2025 untuk wilayah Tangerang. Fokus kami tahun ini adalah penuh, dan kami telah berkolaborasi dengan sekolah serta dinas kesehatan dan pendidikan setempat,” tambah Tirza.
Selain meningkatkan akses makanan bergizi, program MBG juga menciptakan peluang ekonomi bagi UMKM sekitar sekolah. Pihak sekolah dapat merencanakan kebutuhan makanan untuk satu minggu ke depan, memungkinkan UMKM menyiapkan produksi lebih efisien. Dengan begitu, kualitas dan jumlah makanan yang disediakan bisa lebih terjamin.
Pemanfaatan Teknologi dalam Distribusi Makanan
Salah satu keunggulan program MBG adalah penggunaan teknologi untuk mengatur pemesanan dan distribusi makanan. Guru atau penanggung jawab sekolah memesan makanan melalui aplikasi Grab-OVO, yang memudahkan UMKM untuk mempersiapkan pesanan. Selanjutnya, mitra pengemudi akan mengantarkan makanan sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Proses ini juga memastikan transparansi, karena data jumlah makanan yang diterima dan dikonsumsi siswa tercatat secara digital. Bahkan pengembalian peralatan makan pun dipantau melalui aplikasi.
Standar kualitas dan kebersihan juga diawasi dengan ketat, termasuk penggunaan CCTV di UMKM untuk memastikan penggunaan masker, penutup kepala, dan protokol higienis lainnya.
Tirza menjelaskan, pemanfaatan teknologi membuat ekosistem MBG lebih efektif dan efisien, memungkinkan perusahaan belajar dari masukan dan terus memperbaiki alur distribusi agar kualitas program semakin baik.
Kriteria Mitra Pengemudi dan Sistem Operasional
Grab menekankan pentingnya memilih mitra pengemudi yang dapat diandalkan. Pengemudi yang dipilih biasanya memiliki rekam jejak kinerja baik di platform, sehingga pengiriman makanan MBG dapat tepat waktu dan konsisten.
Selama jam operasional MBG, pengemudi fokus hanya pada pengantaran makanan untuk program ini sebelum kembali melayani pesanan lain.
“Driver yang dipilih umumnya sudah memiliki catatan performa yang baik, sehingga bisa diandalkan untuk program MBG yang memiliki jam pengiriman khusus,” ungkap Tirza.
Prosedur standar juga diterapkan, termasuk pengunggahan bukti penjemputan dan pengantaran melalui aplikasi, menjadikan seluruh proses dapat dipantau dari hulu hingga hilir.
Skema biaya MBG mengikuti model pemerintah, yakni Rp 15.000 per porsi. Rinciannya Rp 10.000 untuk makanan dan Rp 5.000 untuk biaya operasional, termasuk pengiriman oleh mitra pengemudi.
Dengan sistem ini, seluruh ekosistem program MBG dari penyedia makanan, pengemudi, hingga siswa dapat berjalan efektif sambil tetap memastikan kualitas dan higienitas makanan.
Melalui program ini, Grab dan OVO membuktikan bahwa kolaborasi sektor swasta dengan institusi pendidikan, UMKM, dan teknologi digital dapat menciptakan dampak sosial yang signifikan.
Siswa menerima makanan bergizi secara rutin, UMKM mendapat peluang ekonomi, dan pengemudi terlibat dalam kegiatan yang berdampak positif bagi masyarakat.
Dengan pendekatan inovatif ini, MBG menjadi lebih dari sekadar program CSR. Program ini menunjukkan bagaimana teknologi dan kolaborasi dapat menghadirkan manfaat nyata bagi pendidikan, ekonomi lokal, dan kualitas hidup siswa di Tangerang Raya.