Minum Teh Saat Sahur Picu Rasa Haus Lebih Cepat

Selasa, 24 Februari 2026 | 09:58:31 WIB
Minum Teh Saat Sahur Picu Rasa Haus Lebih Cepat

JAKARTA – Banyak orang memulai sahur dengan minuman hangat agar tubuh terasa “bangun” lebih cepat. Teh sering dipilih karena rasanya ringan, mudah dibuat, dan dianggap menenangkan perut. 

Namun, kebiasaan ini kerap luput dari perhatian soal dampaknya terhadap hidrasi dan penyerapan nutrisi selama puasa. Padahal, sahur berfungsi sebagai bekal cairan dan energi untuk waktu yang cukup panjang hingga berbuka.

Sahur menjadi waktu penting bagi umat Muslim untuk menyiapkan energi sebelum menjalani puasa seharian. Namun, kebiasaan minum teh saat sahur ternyata sering tidak dianjurkan oleh ahli gizi karena dapat memengaruhi daya tahan tubuh selama berpuasa. 

Minuman yang tampak sederhana ini bisa berdampak pada rasa haus, kestabilan cairan tubuh, hingga efektivitas penyerapan gizi dari makanan yang dikonsumsi.

Alasannya, teh mengandung kafein. Meski tidak setinggi kopi, kafein tetap bersifat diuretik ringan yang dapat memicu tubuh lebih sering buang air kecil. 

Akibatnya, cairan tubuh lebih cepat berkurang dan risiko merasa haus saat puasa meningkat. Kondisi ini membuat sahur dengan teh kurang ideal bila tujuan utamanya adalah menjaga hidrasi agar tubuh tetap nyaman hingga siang hari.

Selain kafein, teh juga mengandung tanin yang berpotensi memengaruhi penyerapan zat gizi tertentu. Hal ini dijelaskan dalam berbagai kajian nutrisi. 

Menurut penelitian yang dimuat dalam jurnal milik Harvard T.H. Chan School of Public Health, tanin dapat mengikat mineral tertentu sehingga tubuh tidak menyerapnya secara optimal. Jika kebiasaan ini dilakukan saat sahur, tubuh bisa lebih cepat lemas karena nutrisi yang masuk tidak terserap maksimal.

Dampak Teh terhadap Hidrasi Tubuh

Salah satu tujuan utama sahur adalah memastikan tubuh memiliki cadangan cairan yang cukup. Saat kafein bekerja sebagai diuretik ringan, frekuensi buang air kecil bisa meningkat, sehingga cairan lebih cepat keluar dari tubuh. Dalam konteks puasa yang panjang, kondisi ini dapat memicu rasa haus lebih awal dan membuat tubuh terasa kering di tenggorokan.

Efek diuretik ringan ini mungkin tidak terasa signifikan pada sebagian orang, tetapi tetap perlu diperhatikan. Ketika asupan cairan berkurang sebelum imsak, tubuh kehilangan kesempatan menyimpan cairan untuk waktu yang lebih lama.

 Karena itu, minuman tanpa kafein seperti air putih atau susu rendah lemak cenderung lebih dianjurkan untuk mendukung hidrasi selama puasa.

Pengaruh Tanin pada Penyerapan Nutrisi

Tanin dalam teh diketahui dapat mengikat mineral tertentu, termasuk zat besi, sehingga penyerapannya oleh tubuh menjadi kurang optimal. Jika teh diminum berdekatan dengan waktu makan sahur, potensi penghambatan penyerapan zat besi dari makanan meningkat. 

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini bisa berdampak pada kecukupan mikronutrien, terutama bagi mereka yang rentan kekurangan zat besi.

Apabila nutrisi yang dikonsumsi tidak terserap maksimal, tubuh dapat lebih cepat merasa lemas. Padahal, sahur seharusnya membantu mempertahankan energi dan konsentrasi selama berpuasa. Karena itu, mengatur jarak konsumsi teh dengan waktu makan sahur menjadi salah satu langkah sederhana untuk menjaga manfaat nutrisi tetap optimal.

Perspektif Kesehatan dalam Anjuran Agama

Dalam perspektif Islam, menjaga kondisi tubuh saat puasa juga dianjurkan sebagaimana tertuang dalam Surah Al-Baqarah ayat 195.

"...Dan janganlah kamu jatuhkan diri sendiri ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri dengan melakukan tindakan bunuh diri dan menyalurkan harta untuk berbuat maksiat..." (QS. Al-Baqarah ayat 195).

Merujuk pada ayat tersebut, memilih makanan dan minuman bergizi saat sahur menjadi bagian dari ikhtiar menjaga kesehatan selama Ramadan.

 Artinya, keputusan sederhana seperti memilih minuman yang lebih mendukung hidrasi dan penyerapan gizi juga termasuk upaya merawat diri agar mampu menjalankan ibadah puasa dengan baik.

Waktu Minum Teh yang Lebih Disarankan

Meski demikian, minum teh sebenarnya tidak dilarang sepenuhnya. Para ahli gizi menyarankan agar teh diminum setelah berbuka atau diberi jeda setelah makan sahur. 

Dengan begitu, tubuh tetap mendapatkan cairan dan nutrisi yang cukup untuk menjalani puasa dengan lebih nyaman. Memberi jarak waktu juga membantu mengurangi efek tanin terhadap penyerapan mineral dari makanan sahur.

Sebagai alternatif saat sahur, air putih tetap menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan. Minuman hangat tanpa kafein juga bisa dipilih bagi yang ingin sensasi hangat di perut. Dengan pengaturan sederhana ini, kebiasaan minum teh tetap bisa dinikmati tanpa mengorbankan kenyamanan berpuasa.

Terkini