Emiten Sawit TLDN Catat Laba Bersih Naik Signifikan Tahun 2025

Senin, 09 Maret 2026 | 08:55:41 WIB
Emiten Sawit TLDN Catat Laba Bersih Naik Signifikan Tahun 2025

JAKARTA - Kinerja perusahaan perkebunan kelapa sawit kembali menunjukkan pertumbuhan positif sepanjang tahun buku 2025.

 Salah satu emiten di sektor ini mencatat peningkatan laba bersih yang signifikan seiring dengan naiknya pendapatan dari aktivitas penjualan kepada pelanggan. Kondisi tersebut mencerminkan masih kuatnya permintaan terhadap produk turunan kelapa sawit di pasar.

Perusahaan yang dimaksud adalah PT Teladan Prima Agro Tbk yang berhasil mencatatkan kinerja keuangan yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

 Emiten yang dikenal sebagai perusahaan sawit milik pengusaha Theodore Permadi Rachmat ini berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp1,10 triliun sepanjang tahun buku 2025.

Angka tersebut meningkat cukup tajam dibandingkan dengan capaian laba bersih pada tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp825,58 miliar. Pertumbuhan laba ini mencerminkan kinerja bisnis perusahaan yang terus berkembang seiring meningkatnya penjualan produk kelapa sawit serta penguatan kontrak dengan sejumlah pelanggan.

Selain laba bersih, pertumbuhan kinerja juga terlihat dari sisi pendapatan perusahaan yang mengalami peningkatan cukup signifikan selama periode tersebut.

Pendapatan Perusahaan Tumbuh Signifikan

Sepanjang tahun buku 2025, PT Teladan Prima Agro Tbk mencatat peningkatan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan. Pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp5,42 triliun, meningkat 28,73 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp4,21 triliun.

Kenaikan pendapatan ini terutama didorong oleh meningkatnya penjualan kepada pihak ketiga yang menjadi mitra bisnis utama perusahaan. Permintaan terhadap produk kelapa sawit dan turunannya tetap tinggi sehingga memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan pendapatan perusahaan.

Sebagian besar pendapatan tersebut berasal dari bisnis minyak kelapa sawit. Penjualan produk ini meningkat dari Rp3,84 triliun pada periode sebelumnya menjadi Rp4,70 triliun pada tahun buku 2025.

Penjualan kepada pihak ketiga menjadi salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan tersebut. Beberapa perusahaan besar tercatat sebagai pembeli produk kelapa sawit dari perseroan.

Di antaranya adalah PT Wilmar Nabati Indonesia yang menyumbang transaksi sebesar Rp1,84 triliun. Selain itu, terdapat pula transaksi dengan PT Energi Unggul Persada sebesar Rp1,09 triliun.

Pendapatan juga berasal dari penjualan kepada PT Karyanusa Ekadaya yang tercatat sebesar Rp639 miliar serta PT Karya Indah Alam Sejahtera dengan nilai penjualan sebesar Rp452 miliar.

Peningkatan kerja sama dengan berbagai mitra tersebut berkontribusi besar terhadap pertumbuhan kinerja keuangan perusahaan.

Kinerja Penjualan Produk Turunan Sawit

Selain penjualan minyak kelapa sawit, perusahaan juga mencatat peningkatan pendapatan dari produk turunan lainnya. Penjualan inti kelapa sawit kepada pihak ketiga meningkat dari Rp271 miliar menjadi Rp358 miliar.

Kinerja yang lebih kuat juga terlihat pada penjualan minyak inti kelapa sawit yang meningkat tajam dari Rp89 miliar menjadi Rp296 miliar. Lonjakan ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk turunan kelapa sawit masih cukup tinggi di pasar.

Tidak hanya itu, perusahaan juga mencatat kenaikan pada pendapatan dari bisnis lain-lain yang meningkat dari Rp3,83 miliar menjadi Rp10,82 miliar.

Hal yang berbeda dibandingkan tahun sebelumnya adalah munculnya pendapatan dari transaksi dengan pihak berelasi. Pada tahun buku 2025, perusahaan berhasil membukukan pendapatan dari penjualan minyak kelapa sawit kepada pihak berelasi sebesar Rp46,86 miliar.

Pada tahun sebelumnya, perusahaan tidak mencatatkan pendapatan dari transaksi tersebut. Selain itu, pendapatan dari penjualan inti kelapa sawit kepada pihak berelasi juga meningkat dari Rp201 juta menjadi Rp497 juta pada tahun 2025.

Perseroan juga memperoleh tambahan pendapatan dari bisnis lain-lain kepada pihak berelasi yang mencapai Rp698 juta, sementara pada tahun sebelumnya tidak terdapat pendapatan dari kategori tersebut.

Beban Produksi Ikut Meningkat

Seiring dengan meningkatnya pendapatan, perusahaan juga mengalami kenaikan beban operasional sepanjang tahun buku 2025. Peningkatan ini terutama berasal dari biaya produksi langsung maupun tidak langsung.

Biaya produksi langsung tercatat sebesar Rp2,59 triliun, sementara biaya produksi tidak langsung mencapai Rp772 miliar. Jika digabungkan, total biaya produksi perusahaan mencapai Rp3,36 triliun setelah memperhitungkan biaya yang dikapitalisasi ke tanaman produktif. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang tercatat sebesar Rp2,93 triliun.

Ketika digabungkan dengan beban persediaan barang jadi, total beban pokok penjualan perusahaan pada tahun 2025 mencapai Rp3,55 triliun. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp2,75 triliun.

Meski beban operasional meningkat, perusahaan tetap mampu mempertahankan kinerja laba yang positif.

Laba Bersih Tumbuh dan Neraca Menguat

Setelah memperhitungkan seluruh beban operasional, perusahaan mencatat laba usaha sebesar Rp1,25 triliun. Angka ini meningkat 12,66 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Setelah dikurangi pajak penghasilan sebesar Rp285 miliar, perusahaan membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp1,10 triliun.

Laba tersebut juga menjadi laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk dengan nilai yang sama, yaitu Rp1,10 triliun. Capaian ini lebih tinggi dibandingkan laba bersih pada tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp825 miliar.

Seiring dengan peningkatan laba, laba per saham dasar perusahaan juga mengalami kenaikan dari Rp63,77 per saham menjadi Rp85,48 per saham.

Namun, posisi kas dan setara kas pada akhir tahun mengalami penurunan dari Rp486 miliar menjadi Rp334 miliar. Penurunan ini terjadi karena meningkatnya penggunaan kas untuk aktivitas investasi dan pendanaan.

Sepanjang tahun 2025, kas yang digunakan untuk aktivitas investasi mencapai Rp515 miliar, sementara untuk aktivitas pendanaan mencapai Rp1,18 triliun.

Di sisi lain, kas yang diperoleh dari aktivitas operasi justru meningkat dari Rp1,14 triliun menjadi Rp1,54 triliun.

Dari sisi neraca keuangan, total aset perusahaan meningkat dari Rp5,66 triliun menjadi Rp6 triliun. Peningkatan ini terutama didorong oleh kenaikan aset tidak lancar dari Rp3,89 triliun menjadi Rp4,42 triliun.

Sementara itu, total aset lancar mengalami penurunan dari Rp1,76 triliun menjadi Rp1,58 triliun.

Di sisi lain, total liabilitas perusahaan menurun dari Rp2,51 triliun menjadi Rp2,37 triliun. Sebaliknya, ekuitas perusahaan meningkat dari Rp3,14 triliun menjadi Rp3,64 triliun.

Kinerja tersebut menunjukkan bahwa perusahaan berhasil memperkuat posisi keuangan sekaligus meningkatkan profitabilitas sepanjang tahun buku 2025.

Terkini