JAKARTA - Peran sektor usaha mikro, kecil, dan menengah terus menjadi perhatian utama dalam pengembangan ekonomi nasional.
Kelompok usaha ini tidak hanya berkontribusi besar terhadap penciptaan lapangan kerja, tetapi juga menjadi penggerak utama aktivitas ekonomi di berbagai daerah. Namun, akses pembiayaan masih menjadi tantangan bagi sebagian pelaku UMKM.
Banyak pelaku usaha kecil menghadapi kesulitan ketika mengajukan pinjaman ke lembaga keuangan formal. Persyaratan administrasi yang dinilai rumit, kebutuhan agunan, hingga proses analisis kredit yang panjang sering kali menjadi hambatan bagi pelaku usaha untuk memperoleh pembiayaan.
Di tengah kondisi tersebut, perbankan digital mulai mengambil peran yang lebih aktif dalam memperluas akses pembiayaan bagi pelaku UMKM. Salah satu bank yang memfokuskan strategi bisnisnya pada segmen tersebut adalah PT Bank Amar Indonesia Tbk.
Bank ini menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat penyaluran kredit ke sektor UMKM. Hingga saat ini, sebagian besar portofolio kredit perusahaan memang diarahkan untuk mendukung pelaku usaha mikro dan kecil di berbagai sektor ekonomi.
Fokus Amar Bank Pada Pembiayaan UMKM
Amar Bank menempatkan sektor UMKM sebagai prioritas utama dalam penyaluran kredit. Strategi ini sejalan dengan visi perusahaan untuk memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha yang selama ini belum sepenuhnya terlayani oleh sistem perbankan konvensional.
Senior Vice President of MSME Amar Bank Josua Sloane Sologracia menyampaikan bahwa mayoritas portofolio kredit bank saat ini berasal dari sektor usaha mikro.
Ia menjelaskan bahwa porsi kredit UMKM telah mencapai sekitar 60 persen dari total penyaluran kredit perusahaan.
"Menurut kami, kami mampu membangunkan UMKM. Sebanyak 60% dari portofolio kami itu terdiri dari mikro. Jadi apakah kami sudah membangunkan? Menurut saya, iya untuk customer yang kami miliki, total ada 400.000 di segmen tersebut," kata Josua.
Jumlah nasabah yang mencapai ratusan ribu pelaku usaha tersebut menunjukkan bahwa sektor UMKM menjadi basis utama pelanggan Amar Bank. Dengan basis pelanggan yang besar di segmen ini, bank optimistis dapat terus meningkatkan penyaluran kredit pada tahun ini.
Keunggulan Bank Digital Dalam Penyaluran Kredit
Sebagai bank berbasis digital, Amar Bank menilai memiliki sejumlah keunggulan dalam melayani kebutuhan pembiayaan UMKM dibandingkan bank konvensional.
Menurut Josua, salah satu keunggulan utama bank digital terletak pada proses administrasi yang lebih sederhana. Pelaku usaha dapat mengajukan pembiayaan dengan prosedur yang lebih praktis dibandingkan proses pengajuan kredit di bank konvensional.
Selain itu, Amar Bank juga menawarkan bunga kredit yang relatif lebih rendah dibandingkan sebagian bank pada umumnya. Kemudahan tersebut dinilai mampu membantu pelaku usaha yang sebelumnya mengalami kesulitan memperoleh pembiayaan dari lembaga keuangan.
Josua menyebutkan bahwa tidak sedikit nasabah Amar Bank yang sebelumnya pernah ditolak ketika mengajukan kredit di bank konvensional. Menurutnya, proses penilaian kredit di Amar Bank tidak hanya mempertimbangkan proyeksi bisnis semata.
"UMKM itu bukan hanya dinilai proyeksi ekonominya, tapi juga karakternya. Kredit skoring kami mampu mengidentidikasi berbagai macam hal, termasuk karakternya," ujarnya.
Dengan sistem penilaian kredit yang memanfaatkan teknologi, bank dapat mengidentifikasi profil calon nasabah secara lebih komprehensif.
Potensi Pertumbuhan Bank Digital
Perkembangan layanan perbankan digital juga dinilai membuka peluang pertumbuhan yang besar bagi industri keuangan pada tahun ini.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies Nailul Huda menyebut bank digital memiliki potensi untuk berkembang seiring meningkatnya aktivitas transaksi digital di masyarakat.
Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat yang semakin terbiasa menggunakan layanan digital menjadi faktor penting yang mendorong pertumbuhan sektor ini.
Hal tersebut membuka peluang bagi bank digital untuk menjangkau lebih banyak nasabah, termasuk pelaku usaha mikro dan kecil yang belum memiliki akses ke layanan perbankan konvensional.
Dengan memanfaatkan teknologi digital, bank dapat menghadirkan layanan yang lebih cepat, fleksibel, serta mudah diakses oleh masyarakat.
Peluang Meningkatkan Porsi Kredit UMKM
Meski sektor UMKM memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian, porsi pembiayaan yang disalurkan perbankan kepada sektor tersebut masih relatif terbatas.
Nailul Huda menyoroti bahwa porsi kredit UMKM dari total kredit perbankan nasional pada Januari 2026 masih berada di kisaran 20 persen.
"Kita lihat ada peluang nih untuk digital banking bisa mengerek porsi UMKM di total kreditnya supaya bisa lebih tinggi. Maka kalau kita lihat dari sisi target itu 30%, tapi satu sisi sekarang berada di 20%. Jadi masih cukup turun," kata Nailul.
Kondisi ini menunjukkan bahwa masih terdapat ruang yang cukup besar untuk meningkatkan akses pembiayaan bagi pelaku UMKM. Nailul juga menilai bank digital memiliki peluang untuk menjangkau pelaku usaha yang selama ini belum dapat mengakses kredit dari bank konvensional.
Menurutnya, ada berbagai alasan yang menyebabkan pelaku usaha tidak dapat memperoleh pembiayaan dari bank konvensional, mulai dari prosedur yang dianggap rumit hingga persyaratan agunan yang sulit dipenuhi.
"Alasannya adalah prosedur, ada yang tidak tahu, prosedurnya sulit, ada terkait dengan agunan, suku bunga tinggi, dan lain sebagainya," ucapnya.
Dengan pendekatan layanan digital yang lebih fleksibel, bank digital dinilai mampu mengatasi sebagian hambatan tersebut.
Melihat tren pertumbuhan layanan digital serta meningkatnya kebutuhan pembiayaan bagi pelaku usaha kecil, bank digital diperkirakan memiliki peluang besar untuk terus berkembang pada tahun ini.