Danantara

Danantara Rencanakan Divestasi Bisnis Non-Inti Termasuk Gesits

Danantara Rencanakan Divestasi Bisnis Non-Inti Termasuk Gesits
Danantara Rencanakan Divestasi Bisnis Non-Inti Termasuk Gesits

JAKARTA - Danantara Indonesia mengonfirmasi rencana besar untuk divestasi unit bisnis non-inti milik BUMN, salah satunya adalah produsen motor listrik Gesits, sebagai bagian dari pemetaan ulang portofolio yang lebih efisien dan kompetitif. 

Rencana ini juga melibatkan beberapa unit bisnis lain yang dinilai tidak relevan dengan fokus utama perusahaan, seperti sektor jasa perjalanan. 

Langkah ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem BUMN yang lebih terarah, serta memperkuat daya saing dan efisiensi sektor-sektor inti yang masih sangat relevan dengan tujuan negara.

Divestasi Unit Bisnis Non-Inti

Rencana divestasi yang dilaksanakan oleh Danantara ini melibatkan sejumlah unit bisnis yang tidak termasuk dalam kategori inti, atau non-core business, yang menurut evaluasi perusahaan, memiliki skala yang terlalu kecil atau tidak sejalan dengan fokus utama mereka. 

Dony Oskaria, COO Danantara dan Kepala BP BUMN, menyatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat portofolio perusahaan BUMN di Indonesia, dengan cara memastikan bahwa perusahaan pelat merah hanya beroperasi di sektor-sektor yang memiliki dampak dan skala yang lebih besar. 

Salah satu bisnis yang akan di divestasi adalah produsen motor listrik Gesits, yang kini berada dalam ekosistem Indonesia Battery Corporation (IBC).

Gesits, yang dimiliki 53,93% oleh PT Wika Industri Manufaktur (WIMA), menjadi bagian dari bisnis yang tidak sejalan dengan arah utama Danantara. 

Dony Oskaria menjelaskan bahwa meski motor listrik memiliki potensi besar di pasar Indonesia, bisnis seperti ini tidak lagi menjadi fokus bagi Danantara dalam kerangka perampingan bisnis BUMN yang lebih strategis.

 “Gesits ini salah satu yang juga akan kami lakukan divestasi,” ujar Dony.

Pengelolaan Air dan Bisnis Lainnya yang Akan Dilepas

Divestasi terhadap Gesits bukanlah langkah tunggal dalam strategi ini. Dony juga menyebutkan bahwa Danantara akan memulai pemetaan ulang terhadap unit-unit bisnis lain yang dirasa tidak berada di dalam garis besar tujuan strategis mereka. Salah satunya adalah pengelolaan air oleh beberapa BUMN Karya yang selama ini dikelola dalam ekosistem industri konstruksi. 

Menurut Dony, sektor ini tidak cukup signifikan atau memiliki ukuran pasar yang cukup besar untuk dikelola oleh BUMN yang seharusnya berfokus pada sektor konstruksi yang lebih produktif dan menguntungkan.

Selain itu, rencana divestasi juga mencakup bisnis di sektor agen perjalanan yang selama ini berada di bawah naungan PT Pertamina (Persero). 

Danantara berencana untuk menanggalkan kepemilikan terhadap unit-unit bisnis seperti ini karena tidak sesuai dengan misi utama mereka yang kini lebih tertuju pada sektor yang lebih strategis dan berdampak langsung pada pembangunan ekonomi nasional. 

Dony mengungkapkan bahwa keputusan ini sejalan dengan instruksi Presiden untuk menyempurnakan dan menyederhanakan fokus BUMN dalam kerangka Indonesia Incorporated, yang memprioritaskan sektor inti dan memberikan ruang lebih bagi sektor swasta.

Fokus pada Penguatan Sektor Inti dan Ekosistem yang Sehat

Dengan divestasi unit-unit bisnis non-inti tersebut, Danantara berharap dapat memperkuat sektor inti yang lebih mendukung visi besar Indonesia. Dalam pandangannya, bisnis-bisnis yang dipertahankan harus lebih terfokus pada penciptaan nilai tambah bagi negara, dan tidak menimbulkan kompetisi yang tidak sehat dengan sektor swasta. 

Hal ini akan memperkecil kemungkinan adanya tumpang tindih dengan sektor swasta, yang kerap kali mengurangi ruang bagi mereka untuk berkembang.

Strategi ini diyakini akan memungkinkan BUMN untuk lebih kompetitif di pasar global. Fokus pada sektor inti yang lebih terukur dan efisien akan menciptakan nilai jangka panjang bagi ekonomi Indonesia. 

Dalam rencana jangka panjangnya, Danantara juga ingin mendorong pengembangan ekosistem bisnis nasional yang lebih sehat, yang dapat memberikan manfaat lebih besar bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Perampingan Portofolio BUMN untuk Efisiensi dan Daya Saing Global

Selain divestasi, Danantara juga akan melakukan perampingan portofolio BUMN secara keseluruhan. Dony Oskaria menjelaskan bahwa dalam waktu yang akan datang, jumlah perusahaan yang dimiliki BUMN akan diperkecil menjadi sekitar 300 entitas. 

Tujuan dari perampingan ini adalah untuk meningkatkan skala ekonomi serta menciptakan daya saing yang lebih baik, baik di tingkat domestik maupun internasional. Dengan pengurangan jumlah perusahaan, Danantara berharap BUMN dapat lebih fokus pada pengelolaan perusahaan yang memiliki ukuran dan kapasitas yang cukup besar untuk bersaing secara global.

Ke depan, Danantara ingin memastikan bahwa hanya perusahaan-perusahaan dengan skala signifikan yang akan beroperasi di bawah naungan BUMN. "Kami harapkan dari 300 perusahaan yang dimiliki BUMN ke depan, itu adalah perusahaan-perusahaan yang secara skala itu cukup signifikan," ujar Dony. 

Langkah ini diambil untuk menciptakan BUMN yang lebih efisien dan dapat mengembangkan diri dengan lebih optimal, menghindari duplikasi usaha, dan memaksimalkan potensi yang ada.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index