JAKARTA - Meski Indonesia memiliki potensi besar untuk memperluas pasar ekspornya, khususnya di negara maju seperti Kanada, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan.
Salah satu tantangan terbesar adalah soal regulasi yang mengatur pasar Kanada, yang dianggap kompleks dan membutuhkan pemahaman mendalam untuk dapat memasuki pasar tersebut.
Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Bidang Pertanian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Devi Erna Rachmawati, dalam ajang Canada in Asia Conference (CIAC) 2026 yang berlangsung di Singapura pada Rabu, 10 Februari 2026.
Devi menegaskan bahwa untuk menembus pasar Kanada, pelaku UMKM Indonesia membutuhkan pembinaan berkelanjutan dalam hal pemahaman regulasi yang berlaku di negara tersebut.
“Yang menjadi tantangan paling krusial bagi UMKM Indonesia untuk tembus pasar Kanada, tentu saja, masalah regulasi,” ujar Devi dalam kesempatan tersebut.
Menurutnya, pemahaman terhadap peraturan dan izin edar produk sangat penting agar produk UMKM Indonesia dapat diterima di pasar Kanada.
Oleh karena itu, Kadin Indonesia berkomitmen untuk membantu para pelaku UMKM dalam proses ini agar bisa memanfaatkan berbagai peluang yang tersedia, termasuk Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA).
Peran Kadin dalam Meningkatkan Akses UMKM ke Pasar Kanada
Dalam upaya untuk membantu UMKM Indonesia menembus pasar Kanada, Kadin Indonesia tidak hanya memberikan pembinaan, tetapi juga mengadakan acara pertemuan bisnis antara pengusaha Kanada dan Indonesia.
Tujuan utama dari acara ini adalah untuk memperkenalkan produk-produk unggulan Indonesia kepada pasar Kanada, sambil memfasilitasi dialog dan kolaborasi langsung antara kedua negara. Dengan adanya acara ini, diharapkan tercipta peluang bisnis yang saling menguntungkan bagi pengusaha dari kedua belah pihak.
Kadin juga memanfaatkan ICA-CEPA sebagai dasar untuk memaksimalkan akses pasar bagi produk-produk Indonesia. ICA-CEPA, yang merupakan kesepakatan perdagangan antara Indonesia dan Kanada, memberikan potensi besar untuk membuka lebih banyak peluang bagi produk Indonesia, termasuk produk UMKM.
Devi menambahkan bahwa salah satu fokus utama Kadin adalah memperkenalkan lebih banyak produk UMKM Indonesia melalui pameran dan acara promosi yang diselenggarakan di berbagai forum internasional, termasuk di Kanada.
Potensi Kolaborasi Indonesia-Kanada dalam Sektor Pertanian
Pada kesempatan yang sama, Devi juga menyampaikan bahwa Kanada tertarik untuk berinvestasi dalam hilirisasi sektor pertanian di Indonesia.
Seiring dengan komitmen pemerintah Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, investasi dari negara seperti Kanada di sektor pertanian diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, khususnya dalam memperkuat sektor UMKM.
Kanada, dengan teknologi pertanian yang maju dan pengalaman panjang dalam sektor tersebut, dapat memberikan solusi bagi berbagai tantangan yang dihadapi oleh sektor pertanian Indonesia, terutama dalam hal peningkatan produktivitas dan pengolahan hasil pertanian.
Kerjasama dalam hilirisasi ini dapat memberikan keuntungan bagi kedua negara, baik dalam meningkatkan nilai tambah produk pertanian Indonesia maupun memperkuat rantai pasok produk pertanian Indonesia ke pasar internasional.
Konferensi Canada in Asia sebagai Platform Kolaborasi Ekonomi
Acara Canada in Asia Conference (CIAC) 2026 yang diselenggarakan di Singapura menjadi platform penting dalam mempertemukan lebih dari 550 inovator, pemimpin pemikiran, dan pembuat kebijakan dari berbagai negara. Forum ini membahas berbagai isu global, termasuk tantangan dalam rantai pasok, ketahanan pangan, inovasi teknologi, dan investasi.
Melalui diskusi ini, banyak peluang kolaborasi dapat ditemukan, terutama bagi negara-negara Asia, termasuk Indonesia, yang sedang aktif memperkuat hubungan ekonomi dengan Kanada.
Indonesia, melalui perwakilan Kadin dan lembaga lainnya, turut serta dalam CIAC 2026 untuk membahas potensi kerjasama dalam berbagai sektor, termasuk sektor pertanian, investasi, dan inovasi teknologi.
Djatmiko B. Witjaksono, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, dan Ridha Wirakusumah, CEO Otoritas Indonesia Investment Authority (INA), juga turut hadir sebagai perwakilan Indonesia dalam konferensi ini, memperkuat komitmen Indonesia dalam menjalin hubungan perdagangan yang lebih erat dengan Kanada.
Harapan Masa Depan untuk UMKM Indonesia di Pasar Global
Dengan adanya berbagai upaya dari pemerintah dan sektor swasta, diharapkan UMKM Indonesia dapat lebih mudah mengakses pasar global, khususnya pasar Kanada yang memiliki potensi besar.
Meskipun tantangan regulasi masih menjadi hambatan utama, kolaborasi antara pemerintah, Kadin, dan pengusaha Indonesia memberikan peluang besar untuk mengatasi masalah tersebut.
Melalui pembinaan berkelanjutan dan pemanfaatan perjanjian perdagangan seperti ICA-CEPA, Indonesia dapat mengoptimalkan peluang ekspor dan meningkatkan daya saing produk UMKM di pasar internasional.
Devi Rachmawati menambahkan bahwa tantangan regulasi bukanlah hal yang tidak bisa diatasi. Dengan komitmen dan kerja sama yang kuat, pelaku UMKM Indonesia bisa mengatasi berbagai hambatan tersebut dan menembus pasar Kanada.
Selain itu, perlu adanya peningkatan pemahaman terhadap standar internasional dan kemampuan untuk beradaptasi dengan peraturan yang berlaku di negara tujuan ekspor.