Rezeki Masih Seret Jelang Lebaran Tinggalkan Kebiasaan Ini

Kamis, 26 Februari 2026 | 12:12:03 WIB
Rezeki Masih Seret Jelang Lebaran Tinggalkan Kebiasaan Ini

JAKARTA - Menjelang Lebaran, kebutuhan rumah tangga biasanya meningkat. Mulai dari belanja bahan makanan, pakaian baru, hingga persiapan mudik, semuanya memerlukan dana yang tidak sedikit. 

Namun, tak jarang sebagian orang justru merasa rezekinya seret, padahal sudah bekerja keras sepanjang tahun.

Dalam Islam, rezeki adalah segala bentuk pemberian dari Allah kepada makhluk-Nya, bukan hanya berupa harta atau materi, tetapi juga kesehatan, ilmu, waktu, keluarga, ketenangan hati, hingga kesempatan berbuat baik. Rezeki diyakini telah diatur oleh Allah, namun manusia tetap diperintahkan untuk berikhtiar (berusaha) dengan cara yang halal dan disertai tawakal.

Melansir Islamic Finance Guru (IFG), ada sejumlah kebiasaan yang bisa mengurangi barakah dalam harta. Ketika keberkahan berkurang, rezeki terasa sempit meski secara nominal mungkin terlihat cukup. Berikut lima kebiasaan yang disebut dapat menghambat datangnya rezeki menurut ajaran Islam.

Mengonsumsi Harta Haram atau Syubhat

Islam menegaskan pentingnya sumber penghasilan yang halal dan bersih. Pendapatan dari transaksi haram atau meragukan diyakini dapat menghilangkan keberkahan. Tidak hanya berdampak pada kondisi finansial, tetapi juga pada ketenangan batin dan kemudahan hidup.

Rasulullah Muhammad SAW pernah menyebutkan tentang seseorang yang berdoa dengan sungguh-sungguh, namun makanan, minuman, dan pakaiannya berasal dari yang haram. Dalam kondisi seperti itu, doa sulit dikabulkan. Dan pesannya jelas, yaitu perbaiki urusan finansial dan pastikan harta yang dibelanjakan berasal dari sumber halal.

Karena itu, setiap Muslim dianjurkan lebih berhati-hati dalam memilih pekerjaan, investasi, maupun bentuk transaksi lainnya agar terhindar dari unsur yang dilarang atau meragukan. Kejelasan sumber rezeki menjadi fondasi utama keberkahan.

Lalai Membayar Zakat dan Kewajiban Harta

Zakat bukan sekadar kewajiban sosial, tetapi juga bentuk penyucian harta. Secara bahasa, zakat berarti "membersihkan" dan "menumbuhkan". Dengan menunaikannya, seorang Muslim diyakini sedang menjaga hartanya agar tetap membawa manfaat dan keberkahan.

Mengabaikan zakat tidak hanya berpotensi mengurangi keberkahan harta, tetapi juga disebutkan memiliki konsekuensi berat di akhirat. Dalam hadis disebutkan, harta orang yang tidak dizakati dapat menjadi sumber azab baginya pada hari kiamat.

Karena itu, Muslim yang mampu diwajibkan menghitung dan menunaikan zakat setiap tahun. Selain zakat, kewajiban keuangan lain seperti membayar utang dan memenuhi janji finansial juga termasuk bagian penting dalam menjaga barakah.

Terlibat Riba dalam Transaksi Keuangan

Riba atau bunga dalam transaksi pinjam-meminjam secara tegas diharamkan dalam Islam. Al-Qur'an menyebut ancaman keras bagi pelaku riba sebagai peringatan agar umat menjauhinya. Praktik ini diyakini merusak sistem keadilan dan keberkahan dalam muamalah.

Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 275 bahwa orang yang kembali mengambil riba termasuk golongan penghuni neraka.

"Barangsiapa kembali melakukan [perdagangan riba], mereka adalah penghuni neraka; mereka akan tinggal di dalamnya selama-lamanya." (QS 2:275).

Karena itu, umat Islam dianjurkan meninjau kembali transaksi keuangan, termasuk rekening bank, untuk memastikan tidak terlibat praktik bunga. Jika sudah terlanjur menerima bunga, dianjurkan untuk membersihkannya dengan menyalurkannya ke amal tanpa niat sedekah.

Boros dan Mengabaikan Integritas Finansial

Islam menganjurkan hidup moderat dan melarang pemborosan. Pengeluaran berlebihan, gaya hidup konsumtif, dan membeli sesuatu di luar kebutuhan bisa mengikis keberkahan. Al-Qur'an dalam QS Al-A'raf ayat 31 menegaskan bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

Artinya, bukan berarti tidak boleh menikmati harta, tetapi perlu ada kontrol dan manajemen yang sehat agar tidak jatuh pada sikap mubazir. Mengatur anggaran dan memprioritaskan kebutuhan menjadi langkah sederhana yang berdampak besar.

Selain itu, menunda pembayaran utang, mengingkari janji finansial, atau tidak transparan dalam transaksi juga disebut dapat menghilangkan keberkahan. 

Rasulullah Muhammad bersabda bahwa dua pihak dalam transaksi akan diberkahi jika jujur dan terbuka. Sebaliknya, jika berbohong atau menyembunyikan sesuatu, keberkahan transaksi tersebut akan hilang. Integritas dalam urusan uang menjadi bagian penting dalam menjaga barakah.

Terkini