Kemdiktisaintek Gandeng Kampus Industri Kembangkan PLTSa Berbasis Sains Nasional

Kamis, 26 Februari 2026 | 13:14:55 WIB
Kemdiktisaintek Gandeng Kampus Industri Kembangkan PLTSa Berbasis Sains Nasional

JAKARTA - Upaya mengatasi persoalan sampah nasional kini diarahkan pada penguatan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah tidak hanya mendorong solusi teknis semata, tetapi juga memastikan pendekatan yang digunakan berbasis sains, terukur, dan berkelanjutan. 

Dalam kerangka inilah pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) digarap lebih serius dengan melibatkan perguruan tinggi dan pelaku industri.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menggandeng berbagai pihak untuk merumuskan desain pengolahan sampah berbasis teknologi. Kolaborasi ini diharapkan mampu menghasilkan model yang tidak hanya efektif secara teknis, tetapi juga layak secara ekonomi serta ramah lingkungan dalam jangka panjang.

Pembahasan solusi pengolahan sampah berbasis teknologi melalui skema PLTSa dilakukan bersama perwakilan sejumlah perguruan tinggi luar negeri, Institut Teknologi Bandung (ITB), serta pihak dari PT Rekayasa Industri (Rekind), dalam rapat pembahasan di kantor Kemdiktisaintek, Selasa.

Pendekatan Berbasis Sains dan Desain Terukur

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan bahwa desain PLTSa harus disusun dengan perhitungan yang jelas. Aspek kapasitas, biaya, hingga keberlanjutan menjadi variabel penting yang tidak boleh diabaikan dalam perencanaan.

"Penting bagi kami adalah bagaimana desainnya berbasis hitungan yang jelas dan terukur, baik dari sisi kapasitas, biaya, maupun keberlanjutannya," kata Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto melalui keterangan di Jakarta, Kamis.

Ia menekankan pentingnya pendekatan berbasis sains dan kajian teknis yang komprehensif agar solusi yang dihasilkan tidak hanya efektif secara teknis, tetapi juga berkelanjutan secara ekonomi dan lingkungan. Dengan demikian, PLTSa tidak sekadar menjadi proyek infrastruktur, melainkan bagian dari sistem pengelolaan sampah terpadu.

Penguatan peran perguruan tinggi dan lembaga riset dipandang sebagai kunci dalam merumuskan model pengolahan sampah yang terintegrasi. Kampus diharapkan mampu menghadirkan kajian berbasis data serta inovasi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik wilayah di Indonesia.

Model Terintegrasi Dari Skala Mikro Hingga Terpusat

Brian memandang bahwa sistem pengolahan sampah perlu dirancang secara berlapis. Ia menyoroti pentingnya kombinasi antara pengolahan skala mikro di tingkat komunitas dengan fasilitas skala lebih besar yang terpusat.

Pendekatan ini dinilai dapat meminimalkan mobilitas sampah, sehingga biaya transportasi dan risiko penumpukan dapat ditekan. Selain itu, pola tersebut juga berpotensi meningkatkan stabilitas bahan bakar turunan sampah atau Refuse Derived Fuel (RDF).

Menurut Brian, pendekatan ini dapat meminimalkan mobilitas sampah, meningkatkan stabilitas bahan bakar turunan sampah atau Refuse Derived Fuel (RDF), serta memperkuat aspek kendali mutu dan dampak lingkungan.

Diskusi juga merumuskan bahwa sekitar 55 persen timbulan sampah merupakan fraksi organik. Pengolahan di tingkat awal, baik di rumah tangga maupun komunitas, dinilai strategis untuk mengurangi beban pengangkutan dan penumpukan di fasilitas akhir.

Dengan pengolahan awal yang optimal, volume sampah yang masuk ke fasilitas besar dapat ditekan. Hal ini sekaligus membuka ruang bagi pengelolaan yang lebih efisien dan berorientasi pada pemanfaatan energi.

Peran Kampus dalam Perhitungan dan Efisiensi Sistem

Model terintegrasi tersebut membuka ruang kontribusi signifikan bagi perguruan tinggi. Kampus dapat menyusun perhitungan berbasis data mengenai kapasitas ideal, tipologi wilayah, serta efisiensi logistik yang dibutuhkan dalam sistem PLTSa.

Perhitungan yang akurat akan memastikan desain sistem dapat disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah. Wilayah dengan kepadatan tinggi tentu memerlukan pendekatan berbeda dibanding daerah dengan pola sebaran penduduk yang lebih luas.

Keterlibatan akademisi juga memungkinkan evaluasi dampak lingkungan dilakukan secara menyeluruh. Aspek emisi, pengendalian residu, serta keberlanjutan operasional menjadi bagian integral dari perencanaan sejak tahap awal.

Selain itu, stabilitas kualitas dan nilai kalor RDF menjadi faktor kunci agar pembangkit dapat beroperasi optimal dan berkelanjutan. Tanpa kualitas bahan bakar yang konsisten, efisiensi pembangkit akan sulit dijaga dalam jangka panjang.

Penguatan Riset Nasional dan Inovasi Teknologi

Dalam konteks tersebut, Kemdiktisaintek mendorong penguatan riset dan inovasi teknologi dalam negeri. Tujuannya adalah memastikan desain pembangkit, sistem pembakaran, serta pengendalian emisi dirancang sesuai karakteristik RDF nasional.

Pengembangan teknologi berbasis riset domestik dinilai penting agar Indonesia tidak sepenuhnya bergantung pada solusi impor. Selain menekan biaya, pendekatan ini juga memungkinkan adaptasi teknologi yang lebih fleksibel terhadap kondisi lokal.

Kolaborasi antara kampus dan industri seperti Rekind diharapkan mampu mempercepat hilirisasi hasil riset. Dengan sinergi tersebut, inovasi yang lahir di laboratorium dapat langsung diimplementasikan dalam proyek nyata di lapangan.

Melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis sains, pengembangan PLTSa diharapkan menjadi solusi konkret dalam pengelolaan sampah sekaligus penyediaan energi alternatif. Kemdiktisaintek menempatkan perguruan tinggi dan industri sebagai mitra strategis dalam membangun sistem yang efisien, terukur, dan berkelanjutan bagi masa depan pengelolaan sampah Indonesia.

Terkini