UMKM Beralih ke Pindar, Outstanding Tembus Rp94 Triliun 2025

Kamis, 05 Maret 2026 | 11:09:11 WIB
UMKM Beralih ke Pindar, Outstanding Tembus Rp94 Triliun 2025

JAKARTA - Di tengah dinamika ekonomi yang penuh ketidakpastian, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah kini semakin selektif dalam memilih sumber pembiayaan. 

Jika sebelumnya kredit perbankan menjadi tumpuan utama, kini sebagian UMKM mulai melirik alternatif berbasis digital yang menawarkan proses lebih ringkas. Fenomena ini terlihat dari meningkatnya pemanfaatan layanan peer-to-peer lending atau pinjaman daring yang kerap disebut pindar.

Perubahan preferensi tersebut tidak terjadi tanpa alasan. Tantangan administratif serta kebutuhan likuiditas yang mendesak membuat pelaku usaha mencari solusi pendanaan yang lebih cepat dan fleksibel. Dalam konteks ini, platform pindar dinilai mampu menjawab kebutuhan tersebut.

Senior Analyst Katadata Insight Center Hanif Gusman menjelaskan pengajuan pendanaan UMKM ke pindar terjadi imbas rumitnya proses administrasi kredit di perbankan. Pindar menjadi pilihan alternatif karena pencairan dana yang cepat dan proses pengajuan yang mudah.

Berikut pemaparan data dan analisis mengenai pergeseran pembiayaan UMKM ke industri pindar.

Alasan UMKM Memilih Pindar Dibanding Bank

Berdasarkan risetnya, Hanif mengatakan 66,7% UMKM mengajukan kredit ke pindar karena proses pencairannya yang cepat dibanding perbankan. Kecepatan menjadi faktor krusial, terutama bagi pelaku usaha yang membutuhkan tambahan modal dalam waktu singkat untuk menjaga arus kas.

Selain itu, ada sebanyak 64,7% UMKM juga menilai manfaat lain dari platform pindar untuk menghadapi kondisi darurat. Fleksibilitas dalam mengakses dana dinilai membantu pelaku usaha merespons situasi tak terduga, seperti lonjakan permintaan atau kebutuhan mendesak lainnya.

"Kita lihat bahwa beberapa hal yang membuat UMKM tidak menggunakan pinjaman dari perbankan, mulai dari proses pengajuan yang terlalu rumit, terus dokumen yang sulit ditemui, sehingga harus ada jaminan. Sementara pindar sendiri sebagai platform digital itu memiliki beberapa kelebihan. Pertama itu pencairan dana yang cepat, proses cepat dan mudah, hingga aplikasi yang lebih mudah digunakan," ungkap Hanif dalam acara Paparan Riset Industri Pindar di On3 Senayan, Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Kemudahan berbasis aplikasi digital dinilai menjadi daya tarik tersendiri. Tanpa perlu proses tatap muka yang panjang, pelaku usaha cukup mengunggah dokumen secara daring dan menunggu proses verifikasi.

Pertumbuhan Outstanding Dan Jumlah Pengguna

Hanif menjelaskan, outstanding industri pindar sepanjang 2024 hingga Agustus 2025 tercatat mencapai Rp 87,48 triliun dengan pengguna sebanyak 25,5 juta. Angka tersebut menunjukkan skala industri yang semakin besar dan menjangkau masyarakat luas.

Pertumbuhan itu terus berlanjut hingga November 2025, dengan outstanding meningkat menjadi Rp 94,85 triliun. Kenaikan ini mengindikasikan kepercayaan publik terhadap layanan pindar yang semakin kuat.

Ia menjelaskan, pindar menopang perekonomian negara melalui penyaluran konsumtif yang mendorong konsumsi rumah tangga. Adapun konsumsi rumah tangga merupakan kontributor terbesar PDB Indonesia, yang tercatat stabil di kisaran 52-58% dalam lima tahun terakhir.

Selain mendorong konsumsi, penyaluran pembiayaan ke sektor produktif juga menjadi penopang penting bagi UMKM. Berdasarkan hasil risetnya, tercatat 16,9% alokasi permodalan bisnis melalui pindar untuk pembelian bahan baku usaha.

Data tersebut menunjukkan bahwa dana yang diperoleh tidak hanya digunakan untuk kebutuhan konsumtif, tetapi juga untuk ekspansi dan operasional usaha.

Dampak Finansial Dan Multiplier Effect

Hanif menegaskan bahwa pihaknya turut menghitung dampak multiplier dari pinjaman yang diperoleh UMKM terhadap usaha mereka. Pinjaman yang diterima terbukti memberikan efek langsung terhadap peningkatan pendapatan.

"Kami juga melakukan perhitungan dampak multiplier dari pinjaman yang dipinjam oleh para UMKM ini terhadap usaha mereka, yang mana secara langsung itu juga berdampak pada pendapatan mereka. Di sini bisa terlihat, dampak finansial Rp 1 rupiah pinjaman yang dipinjam oleh UMKM tersebut berdampak terhadap omset per bulan," imbuhnya.

Temuan ini menguatkan peran pindar sebagai salah satu instrumen pembiayaan yang mampu mendorong pertumbuhan usaha skala kecil dan menengah. Akses modal yang lebih mudah membuka peluang peningkatan produksi dan perluasan pasar.

Di sisi lain, Ketua Bidang Hubungan Masyarakat Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia, Kuseryansyah, menjelaskan kehadiran pindar memperkuat inklusi keuangan. Pasalnya, akses pendanaan dapat dilakukan di mana pun selama memiliki koneksi internet.

"Kalau kita bicara inklusi, salah satu inclusiveness-nya itu adalah, hadir secara geografis," ungkapnya.

Menurutnya, industri pindar menjadi katalisator perluasan penyaluran kredit yang sejalan dengan program Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. Ia mengatakan, pindar sendiri berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp 340 triliun atau sekitar Rp 30 triliun per bulan.

Tingginya Permintaan Dan Tantangan Credit Gap

Kuseryansyah menambahkan, permintaan kredit melalui pindar tercatat tinggi dengan tingkat credit gap mencapai Rp 2.400 triliun berdasarkan data dari Financial Index World Bank. Menurutnya, angka tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan pembiayaan yang belum sepenuhnya terlayani.

"Demand kita itu, kalau bahasa istilahnya, berapa saja dimasukin, di Indonesia itu diserap karena kebutuhannya tinggi. Credit gap kita berdasarkan dari fintech, dari World Bank, tahun ini itu Rp 2.400 triliun, tahun ini saja," pungkasnya.

Besarnya credit gap mengindikasikan peluang sekaligus tantangan bagi industri keuangan, baik perbankan maupun pindar. Di satu sisi, kebutuhan pembiayaan UMKM masih sangat besar. Di sisi lain, diperlukan tata kelola dan pengawasan yang memadai agar pertumbuhan industri tetap sehat.

Peralihan sebagian UMKM dari kredit bank ke pindar mencerminkan perubahan perilaku dalam mengakses pembiayaan. Kemudahan, kecepatan, dan fleksibilitas menjadi faktor utama yang dipertimbangkan pelaku usaha dalam menjaga kelangsungan bisnisnya di tengah ketidakpastian ekonomi.

Terkini