Jelantah

Proyek Jelantah Pertamina Dorong Ketahanan Energi Hijau Nasional

Proyek Jelantah Pertamina Dorong Ketahanan Energi Hijau Nasional
Proyek Jelantah Pertamina Dorong Ketahanan Energi Hijau Nasional

JAKARTA - Transformasi energi nasional terus bergerak ke arah yang lebih berkelanjutan melalui berbagai inovasi pemanfaatan sumber daya alternatif. Salah satu langkah strategis yang kini dikembangkan adalah pengolahan minyak jelantah menjadi energi hijau. 

Inisiatif ini tidak hanya berorientasi pada penguatan ketahanan energi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru sekaligus memberikan dampak positif bagi lingkungan.

PT Pertamina (Persero) menilai proyek pengolahan minyak jelantah menjadi energi hijau di Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Cilacap sebagai bagian penting dari upaya mencapai swasembada energi nasional. Proyek tersebut juga diposisikan sebagai langkah konkret dalam mendorong hilirisasi energi dan industrialisasi yang berkelanjutan.

Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha PT Pertamina (Persero) Emma Sri Martini menjelaskan bahwa proyek ini sejalan dengan arah pembangunan nasional. 

“Proyek ini mengimplementasikan banyak Astacita Presiden, mulai dari ketahanan energi, pengurangan impor, hingga pemberantasan kemiskinan. Dari minyak jelantah yang sebelumnya tidak bernilai, kini menjadi energi hijau yang strategis,” katanya.

Peran Strategis Minyak Jelantah dalam Transisi Energi

Pengolahan used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah menjadi bahan bakar berkelanjutan dinilai memiliki manfaat yang luas. Selain menghasilkan biofuel, proyek ini juga menghadirkan efek berganda bagi perekonomian nasional melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan nilai tambah industri.

Emma menyebutkan bahwa proyek tersebut diperkirakan mampu menciptakan sekitar 5.900 lapangan kerja serta menurunkan emisi karbon hingga 600 ribu ton karbondioksida (CO2) per tahun. Tidak hanya itu, kontribusinya terhadap produk domestik bruto diproyeksikan mencapai Rp199 triliun per tahun.

“Selain itu, tingkat komponen dalam negeri diperkirakan mencapai 30 persen dari total proyek, dengan nilai investasi sekitar 1,1 miliar dolar AS atau setara Rp19 triliun,” katanya.

Lebih jauh, proyek energi hijau berbasis minyak jelantah juga berperan dalam mengurangi impor energi, menekan defisit transaksi berjalan, serta meningkatkan daya saing ekonomi nasional. Dari sisi lingkungan, langkah ini turut membantu menekan polusi dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat di sekitar wilayah pengembangan.

Pengembangan Produk Sustainable Fuel oleh Pertamina

Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra menuturkan bahwa produk yang dihasilkan dari proyek ini berupa sustainable fuel yang telah dikembangkan sejak 2023 dan mulai dipasarkan secara komersial pada 2024.

“Beberapa maskapai penerbangan, baik internasional maupun domestik, sudah melakukan transaksi dengan kami. Dari sisi pasokan, kami mengumpulkan minyak jelantah bersama masyarakat di sejumlah titik serta bekerja sama dengan asosiasi pengepul,” katanya.

Menurutnya, ke depan Pertamina akan memperluas jaringan pengumpulan minyak jelantah sebagai bagian dari gerakan nasional. Langkah ini memungkinkan masyarakat berpartisipasi langsung dalam rantai pasok energi hijau sekaligus memperoleh manfaat ekonomi dari pengumpulan limbah rumah tangga tersebut.

Dari aspek teknologi, Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis PT Pertamina Patra Niaga Joko Pranoto menegaskan bahwa proyek ini didukung kemampuan dalam negeri.

“Sebagian besar teknologi dan desain sudah menggunakan sumber daya dalam negeri, meskipun lisensi teknologi tertentu masih berasal dari luar negeri,” katanya.

Penggunaan katalis produksi dalam negeri oleh Pertamina Group menunjukkan kapasitas industri nasional dalam mendukung pengembangan energi berkelanjutan. Hal ini sekaligus memperkuat kemandirian teknologi di sektor energi baru dan terbarukan.

Hilirisasi Energi sebagai Penggerak Transformasi Ekonomi

Dalam konteks yang lebih luas, proyek pengolahan minyak jelantah menjadi energi hijau merupakan bagian dari agenda hilirisasi nasional. Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Chief Executive Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Rosan Perkasa Roeslani menekankan bahwa hilirisasi menjadi fondasi penting transformasi ekonomi Indonesia.

“Sore hari ini 6 Februari 2026 kita melaksanakan groundbreaking enam proyek hilirisasi fase pertama yang tersebar di berbagai daerah, dan secara keseluruhan mencakup 13 wilayah di Indonesia,” katanya.

Proyek-proyek tersebut tersebar di sejumlah daerah seperti Mempawah, Banyuwangi, Cilacap, Malang, dan Gresik dengan total nilai investasi sekitar 7 miliar dolar AS yang mencakup sektor energi, mineral, dan agroindustri. 

Keberadaan proyek di berbagai wilayah diharapkan mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat struktur industri nasional.

Rosan juga menyampaikan bahwa sepanjang 2025, sektor hilirisasi menyumbang sekitar 30 persen dari total investasi nasional atau mencapai Rp584,1 triliun. 

Nilai tersebut meningkat 43,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan diproyeksikan terus tumbuh seiring percepatan pembangunan industri berbasis nilai tambah.

Dampak Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan Berkelanjutan

Pengembangan energi hijau dari minyak jelantah menunjukkan bagaimana limbah dapat diubah menjadi sumber daya strategis. Selain memperkuat ketahanan energi, proyek ini menciptakan peluang kerja, meningkatkan partisipasi masyarakat, serta mengurangi tekanan lingkungan akibat limbah domestik.

Keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, BUMN, pelaku industri, hingga masyarakat, menjadi faktor penting keberhasilan inisiatif ini. Kolaborasi tersebut mencerminkan pendekatan pembangunan berkelanjutan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan sosial dan lingkungan.

Ke depan, pemanfaatan sumber energi alternatif berbasis limbah diperkirakan akan semakin berkembang seiring meningkatnya kebutuhan energi bersih dan komitmen pengurangan emisi karbon. 

Dengan dukungan kebijakan hilirisasi dan investasi berkelanjutan, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat kemandirian energi sekaligus menjadi pemain penting dalam ekosistem energi hijau global.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index