JAKARTA - Di tengah dinamika pasar keuangan yang bergerak fluktuatif sepanjang tahun lalu, Dana Pensiun Pemberi Kerja Penyelenggara Program Pensiun Iuran Pasti Bank Central Asia atau Dapen BCA mampu menjaga tren pertumbuhan asetnya.
Hingga akhir 2025, total aset Dapen BCA tercatat mencapai Rp6,11 triliun, atau tumbuh 3,61% secara tahunan.
Direktur Utama Dapen BCA Budi Sutrisno menjelaskan bahwa capaian tersebut tidak terlepas dari hasil investasi yang dikelola secara aktif sepanjang tahun berjalan.
“Pertumbuhan tersebut terutama dipengaruhi oleh hasil investasi sepanjang tahun berjalan serta dinamika pasar obligasi dan saham,” ujarnya.
Per Desember 2025, Return on Investment Dapen BCA tercatat sebesar 8,8%. Angka ini diperoleh melalui evaluasi berkelanjutan atas komposisi portofolio investasi serta kemampuan memanfaatkan momentum pasar yang muncul sepanjang tahun. Strategi ini memungkinkan dana pensiun tetap mencetak imbal hasil optimal tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian.
Budi menegaskan bahwa pengelolaan investasi dilakukan secara disiplin dan adaptif terhadap perubahan kondisi pasar. Pendekatan tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga pertumbuhan aset sekaligus memastikan keberlanjutan dana untuk memenuhi kewajiban jangka panjang kepada peserta.
Target Pertumbuhan Mengikuti Arah Pasar dan Regulasi
Memasuki 2026, Dapen BCA tidak memasang target agresif, melainkan memilih pendekatan yang selaras dengan kondisi pasar dan proyeksi regulator. Budi menekankan bahwa pertumbuhan akan tetap mempertimbangkan stabilitas dan kesinambungan jangka panjang.
“Dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan kesinambungan jangka panjang. Target pertumbuhan akan sangat bergantung pada stabilitas pasar serta pencapaian hasil investasi yang optimal,” sebutnya.
Di sisi regulator, Otoritas Jasa Keuangan memproyeksikan aset dana pensiun dapat tumbuh sekitar 10% hingga 12% secara tahunan pada 2026. Dapen BCA memandang proyeksi tersebut masih realistis, selama kondisi ekonomi domestik tetap stabil dan volatilitas global dapat terkendali.
Menurut Budi, pada dasarnya pertumbuhan aset dana pensiun ditopang oleh dua faktor utama, yakni akumulasi iuran peserta dan hasil investasi. Dari sisi investasi, pergerakan suku bunga yang lebih kondusif, stabilitas pasar obligasi, serta kinerja pasar saham yang positif akan sangat berpengaruh terhadap peningkatan nilai wajar portofolio.
“Di sisi lain, kesinambungan arus iuran dan pengelolaan kewajiban manfaat juga turut menentukan pertumbuhan bersih aset dana pensiun,” ujarnya.
Artinya, keseimbangan antara penerimaan iuran dan pembayaran manfaat menjadi elemen krusial dalam menjaga pertumbuhan bersih aset.
Strategi Alokasi Aset dan Penguatan Manajemen Risiko
Untuk menjaga momentum pertumbuhan pada 2026, Dapen BCA akan tetap fokus pada keseimbangan antara imbal hasil dan pengelolaan risiko. Penyesuaian alokasi aset dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan kondisi pasar serta proyeksi suku bunga.
Instrumen pendapatan tetap masih menjadi pilar utama dalam portofolio investasi. Hal ini sejalan dengan karakteristik kewajiban dana pensiun yang bersifat jangka panjang dan membutuhkan stabilitas arus kas.
Sementara itu, penempatan pada saham dilakukan secara selektif guna menangkap potensi pertumbuhan, namun tetap dalam koridor kehati-hatian.
“Penguatan manajemen risiko dan pengelolaan likuiditas juga menjadi prioritas agar kewajiban pembayaran manfaat tetap terjaga,” tegas Budi. Dengan pendekatan ini, Dapen BCA berupaya memastikan setiap keputusan investasi selaras dengan profil risiko dan kebutuhan likuiditas jangka panjang.
Disiplin dalam pengelolaan portofolio juga menjadi langkah mitigasi terhadap potensi gejolak pasar. Diversifikasi instrumen dan pemantauan berkala atas posisi investasi dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara peluang dan risiko.
Tantangan Pasar dan Potensi Industri ke Depan
Meski mencatat pertumbuhan positif, Dapen BCA tetap mewaspadai sejumlah tantangan yang dapat memengaruhi laju aset pada tahun berjalan. Salah satunya adalah volatilitas pasar keuangan, khususnya pergerakan yield obligasi dan dinamika pasar saham.
“Kenaikan yield dapat menekan valuasi portofolio obligasi, sementara pasar saham sangat dipengaruhi sentimen global dan arus dana asing,” tutur Budi.
Perubahan kondisi global, termasuk kebijakan moneter negara maju dan arus modal internasional, berpotensi memicu fluktuasi yang berdampak pada nilai investasi.
Selain itu, tren peningkatan pembayaran manfaat seiring bertambahnya peserta pensiun juga menjadi faktor yang perlu dikelola secara hati-hati. Jika tidak diantisipasi dengan baik, peningkatan kewajiban pembayaran dapat mengurangi fleksibilitas dalam pengelolaan investasi.
“Pendekatan yang disiplin, diversifikasi portofolio, serta pengelolaan likuiditas yang memadai menjadi langkah mitigasi utama yang kami terapkan,” sebut Budi. Dengan strategi tersebut, Dapen BCA berupaya menjaga stabilitas aset sekaligus memenuhi kewajiban kepada peserta tepat waktu.
Di tingkat industri, Budi melihat pekerja informal dan generasi muda memiliki potensi besar dalam memperluas basis peserta dana pensiun. Partisipasi yang lebih luas akan memperkuat akumulasi iuran jangka panjang serta meningkatkan skala industri secara keseluruhan.
Namun, untuk dana pensiun pemberi kerja seperti Dapen BCA, pertumbuhan aset tetap lebih ditentukan oleh jumlah peserta aktif internal, kesinambungan iuran, serta kinerja investasi.
“Namun demikian, untuk dana pensiun pemberi kerja seperti Dapen BCA, pertumbuhan aset tetap lebih ditentukan oleh perkembangan jumlah peserta aktif internal, kesinambungan iuran, serta kinerja investasi. Secara makro, peningkatan literasi dan kesadaran pensiun di kalangan generasi muda tetap menjadi faktor positif bagi industri secara keseluruhan,” tutup Budi.
Dengan kombinasi strategi investasi yang terukur, penguatan manajemen risiko, serta pengelolaan iuran dan kewajiban yang disiplin, Dapen BCA menatap 2026 dengan optimisme yang tetap realistis.