JAKARTA - Proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (Waste to Energy/WtE) yang diprakarsai oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, kini memasuki fase penting.
Program ini diharapkan menjadi solusi terhadap permasalahan sampah di kota-kota besar Indonesia sambil memperkuat ketahanan energi nasional.
Pemenang tender untuk proyek tahap pertama ini akan segera diumumkan dan akan memulai pembangunan pengolahan sampah di empat kota besar: Denpasar, Bekasi, Bogor, dan Yogyakarta.
Pemenang Tender WtE Akan Diumumkan Maret 2026
Direktur Investasi PT Danantara Investment Management, Fadli Rahman, menyatakan bahwa pemenang tender untuk proyek pengolahan sampah menjadi energi ini akan diumumkan pada Maret 2026.
Penentuan pemenang didasarkan pada kriteria yang ketat sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025, yang mencakup kemampuan teknis, kemampuan finansial, dan kemampuan mengelola risiko.
Proyek ini tidak hanya menjadi solusi bagi masalah sampah, tetapi juga merupakan langkah penting untuk mendukung ketahanan energi Indonesia.
Proyek Memasuki Tahap Penting Bagi Ketahanan Energi
Program sampah jadi listrik ini bukan hanya bertujuan untuk mengurangi tumpukan sampah yang terus meningkat di kota-kota besar, tetapi juga untuk menciptakan sumber energi yang terbarukan.
Indonesia telah lama menghadapi tantangan dalam pengelolaan sampah, dan proyek WtE ini akan menjadi salah satu solusi konkret untuk mengolah sampah menjadi energi yang dapat digunakan oleh masyarakat.
Pemanfaatan limbah ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, sehingga mendorong terciptanya sumber energi yang lebih ramah lingkungan.
Perusahaan Asing Berebut Tender Proyek WtE
Fadli Rahman juga mengungkapkan bahwa sebanyak 24 perusahaan internasional telah mengikuti proses seleksi untuk tender proyek sampah jadi listrik ini.
Mayoritas peserta berasal dari China, diikuti oleh Jepang dan Prancis. Sebanyak 20 perusahaan berasal dari China, tiga dari Jepang, dan satu dari Prancis.
Setiap lokasi yang dipilih akan ditangani oleh satu perusahaan, yang wajib membentuk konsorsium dengan perusahaan domestik.
Proses seleksi tidak hanya memperhatikan aspek teknis, tetapi juga melibatkan faktor kualitas desain, dampak lingkungan, serta keterlibatan mitra lokal.
Investasi Besar Diharapkan Dorong Transfer Teknologi
Untuk mendukung proyek ini, pemenang tender diwajibkan untuk melakukan transfer teknologi ke Indonesia. Hal ini mencakup pelatihan bagi tenaga kerja lokal, yang juga akan dikirim untuk belajar ke negara asal perusahaan yang memenangkan tender.
Dalam proyek tahap pertama, total investasi yang dibutuhkan diperkirakan mencapai USD 150 hingga 170 juta per lokasi, dengan total investasi minimal untuk empat kota mencapai sekitar USD 600 juta atau lebih kurang Rp 10 triliun.
Skema Pembiayaan dan Rencana Tahap Selanjutnya
Proyek ini akan dibiayai dengan skema pembiayaan yang terdiri dari 70 persen investasi asing langsung (FDI) dan 30 persen ekuitas dari Danantara.
Dengan demikian, meskipun mayoritas investasi berasal dari pihak asing, Danantara juga akan berperan penting dalam proyek ini melalui pendanaan ekuitasnya.
Proyek ini direncanakan tidak hanya untuk empat kota pada tahap pertama, tetapi juga akan melibatkan sembilan kota lainnya pada tahap berikutnya. Lelang untuk sembilan kota tersebut direncanakan akan dimulai pada April 2026, setelah Lebaran.
Selain mendukung ketahanan energi nasional, proyek ini juga diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru, meningkatkan perekonomian daerah, dan memberikan dampak sosial yang positif.
Seiring dengan semakin tingginya permintaan terhadap energi terbarukan dan pengelolaan sampah yang efisien, program sampah jadi listrik ini diharapkan dapat menjadi pionir dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia.
Keuntungan Proyek Sampah Jadi Listrik bagi Masyarakat
Selain manfaat utama dalam menghasilkan energi listrik yang lebih ramah lingkungan, proyek ini juga berpotensi mengurangi masalah sampah yang menjadi isu utama di kota-kota besar Indonesia.
Proyek WtE akan mengubah sampah yang biasanya menjadi masalah besar, menjadi sumber energi yang dapat digunakan untuk kebutuhan listrik. Dengan demikian, proyek ini dapat mengatasi dua masalah besar sekaligus: pengelolaan sampah dan kebutuhan energi yang terus meningkat.
Di sisi lain, keberhasilan proyek ini juga akan menunjukkan komitmen Indonesia dalam mendukung energi terbarukan serta langkah nyata dalam mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Melalui pengolahan sampah menjadi energi, Indonesia akan semakin dekat dengan pencapaian target pengurangan emisi karbon yang telah ditetapkan dalam berbagai perjanjian internasional.
Peluang Besar di Sektor Energi Terbarukan
Sebagai bagian dari upaya pengembangan energi terbarukan, proyek sampah jadi listrik ini juga menunjukkan potensi besar di sektor energi terbarukan di Indonesia.
Program ini memberi kesempatan bagi perusahaan-perusahaan energi untuk berinvestasi di pasar Indonesia, sementara juga membuka peluang baru bagi pengembangan teknologi yang ramah lingkungan. Proyek ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas udara dan menciptakan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Masa Depan Energi Terbarukan di Indonesia
Program sampah jadi listrik ini hanyalah awal dari rencana besar Indonesia untuk meningkatkan ketahanan energi melalui sumber energi terbarukan. Jika proyek ini sukses, dapat menjadi model yang dapat diterapkan di kota-kota lain di seluruh Indonesia, mengubah cara kita mengelola sampah dan memenuhi kebutuhan energi secara lebih efisien dan ramah lingkungan.
Dengan berbagai keuntungan yang ditawarkan, baik dalam hal ketahanan energi maupun pengelolaan sampah, proyek ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat Indonesia, menciptakan lapangan pekerjaan, dan memajukan sektor energi terbarukan di tanah air.