Produktivitas Tenaga Kerja RI Hanya Tumbuh 3%, Vietnam Melesat 10,34% pada 2024

Rabu, 16 September 2026 | 11:33:01 WIB
Produktivitas tenaga kerja Vietnam tumbuh 10,34% pada 2024, melampaui Indonesia dan Malaysia.

INVESTORTALK.ID — Produktivitas tenaga kerja Vietnam melesat 10,34% sepanjang 2024, meninggalkan Indonesia dan Malaysia yang hanya tumbuh di kisaran 3% per tahun. Lompatan itu bukan hasil keajaiban teknologi, melainkan buah kebijakan struktural yang dijalankan bertahap sejak lama. Vietnam pun menargetkan pertumbuhan produktivitas 8,5% untuk periode 2025–2026.

Hingga 2023, laju produktivitas tenaga kerja Vietnam sebenarnya tak berbeda jauh dari Indonesia. Keduanya bergerak di rentang 3%–4% per tahun. Setahun berselang, garis Vietnam menukik tajam ke 10,34%, sementara Indonesia masih tertahan di bawah 3,5%.

Angka itu menempatkan Vietnam di posisi teratas kawasan dalam hal pertumbuhan produktivitas. Malaysia, yang secara pendapatan per kapita jauh lebih mapan, juga tak mampu mengejar laju tersebut.

Dari Cangkul ke Mesin Pabrik

Kunci lompatan Vietnam bukan adopsi teknologi canggih atau inovasi radikal. Pertumbuhan industrinya bertumpu pada pergeseran struktur ekonomi yang berjalan gradual, dari pertanian menuju manufaktur dan jasa.

Distribusi tenaga kerja mencerminkan pergeseran itu: 25,4% masih di pertanian, 33,8% di industri dan konstruksi, dan 40,8% di sektor jasa. Perpindahan dari lahan pertanian ke lini pabrik mendongkrak output per pekerja hingga tiga kali lipat.

Transformasi struktural semacam ini menyumbang 1,7% dari total pertumbuhan produktivitas nasional. Angka itu terlihat kecil, tetapi berdampak besar karena berlangsung konsisten selama bertahun-tahun.

Samsung hingga Intel Jadi Penopang

Arus investasi asing langsung memperkuat momentum tersebut. Samsung, LG, dan Intel menanamkan modal besar di Vietnam, menjadikan negara itu eksportir utama produk elektronik dan tekstil. Ekspor kedua sektor itu tumbuh 17% pada tahun lalu.

Faktor demografi juga bekerja di sisi Vietnam. Penduduk usia 25–54 tahun, yang berada pada spektrum produktif, mendominasi struktur tenaga kerja. Pemerintahnya membenahi institusi, membangun infrastruktur strategis, dan mendorong transformasi digital secara berkelanjutan.

Secara teori, setiap satu poin peningkatan akses infrastruktur menambah produktivitas 3,9%. Kondisi itu membuat sektor formal Vietnam memiliki produktivitas 27,6% lebih tinggi dibandingkan sektor informal.

Titik Lemah yang Belum Tuntas

Laju Vietnam tidak bebas hambatan. Hanya 29,5% dari total pekerja yang tergolong terlatih dan bersertifikat. Pemerintah Vietnam menyadari celah itu dan mulai menggeser fokus kebijakan menuju model pertumbuhan baru.

Persoalan keterampilan menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. Tanpa perbaikan di sisi ini, lonjakan produktivitas berisiko sulit dipertahankan dalam jangka panjang.

Tiga Negara, Tiga Gaya Berlari

Vietnam, Malaysia, dan Indonesia bersaing di medan yang sama dengan titik mula berbeda. Vietnam menyerupai pelari cepat: pertumbuhan produktivitas 10,34% pada 2024 dan rata-rata 4% per tahun dalam 15 tahun terakhir. Namun, ia berlari dari garis start paling rendah, dengan GDP per kapita yang baru menembus US$5.000.

Indonesia lebih mirip pelari maraton. Angkatan kerjanya terbesar di antara ketiganya, lebih dari 147 juta orang, dengan struktur ekonomi yang bergeser ke sektor jasa sekitar 49%–50%. Modal volume besar itu belum diimbangi laju produktivitas yang stagnan di 2,5%–3,5% per tahun.

Penghambatnya berlapis: proporsi pekerja di pertanian informal dan UMKM masih besar, sementara digitalisasi belum merata. Dua faktor itu menahan laju produktivitas nasional.

Malaysia bergaya pelari jarak menengah yang telanjur mapan. GDP per kapitanya menembus US$13.000, dengan ekonomi didominasi jasa 61%–62% serta industri bernilai tambah tinggi seperti elektronik dan kimia.

Pertanian dan Manufaktur: Jarak yang Melebar

Di sektor pertanian, Malaysia unggul jauh lewat mekanisasi penuh. Traktor, drone, dan IoT diterapkan di perkebunan sawit dan karet, menghasilkan output besar dengan sedikit pekerja.

Vietnam mulai bergerak ke komoditas bernilai tambah tinggi seperti kopi dan udang. Namun, seperempat tenaga kerjanya masih terserap di sektor ini, sehingga menahan laju rata-rata nasional. Indonesia masih didominasi petani kecil dengan lahan sempit.

Di sektor manufaktur, Malaysia unggul melalui produk bernilai tambah tinggi seperti cip dan alat medis yang ditopang otomatisasi. Kelemahannya, biaya buruh terlampau mahal. Vietnam justru tumbuh tinggi berkat arus FDI dan tingkat upah yang jauh lebih murah, dengan rata-rata UMR sekitar Rp2,4 juta–Rp3,4 juta.

Selisih itulah yang membuat Vietnam terus menarik relokasi pabrik dari negara tetangga. Bagi Indonesia, pertanyaannya bukan sekadar mengejar angka, melainkan membenahi sektor informal dan UMKM yang menampung sebagian besar pekerja.

Tags

Terkini