INVESTORTALK.ID — KAI Logistik bersama PT Bogantara Indo Transport meneken perjanjian kerja sama pengiriman komoditas hasil bumi, pangan, dan ternak via kereta api dengan target 84.200 gerbong datar hingga 2030. Kerja sama ini menyasar relasi Banyuwangi–Jakarta pulang-pergi, jalur yang selama ini didominasi angkutan truk untuk pasokan sayur, buah, dan sapi hidup ke ibu kota.
Penandatanganan dilakukan oleh Aniek Dwi Deviyanti, Direktur Pengembangan Usaha KAI Logistik, bersama M. Farid Nor Rohman selaku Direktur Utama PT Bogantara Indo Transport. Kesepakatan berlaku mulai November 2026 sampai Desember 2030.
Banyuwangi dikenal sebagai salah satu sentra produksi sayur, buah, dan ternak di Jawa Timur. Selama ini distribusinya ke Jakarta mengandalkan jalur darat yang rawan macet dan cuaca.
Skema Angkutan dan Target Volume
Pengangkutan akan memakai kontainer khusus yang disesuaikan dengan karakteristik tiap komoditas, mulai dari hasil bumi, pangan, hingga sapi hidup. Relasi Banyuwangi–Jakarta dijadwalkan pulang-pergi.
Angka 84.200 gerbong datar menjadi acuan volume sepanjang masa kerja sama. Jumlah itu memberi gambaran skala distribusi yang ingin dibangun kedua pihak, bukan sekadar uji coba.
Direktur Utama KAI Logistik Yuskal Setiawan menyebut kerja sama ini menyangkut solusi logistik yang berdampak luas ke masyarakat.
"Kerja sama ini tidak hanya berbicara mengenai distribusi dan logistik, tetapi juga mengenai bagaimana sebuah sinergi menghadirkan solusi logistik baru yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat," ujar Yuskal.
Ia menambahkan komoditas pangan butuh sistem distribusi yang aman, andal, terjadwal, dan mampu menjangkau sentra produksi hingga pusat konsumsi.
"Kami melihat komoditas pangan sebagai bagian strategis dari kehidupan masyarakat, sehingga dibutuhkan sistem distribusi yang aman, andal, terjadwal, dan mampu menjangkau wilayah sentra produksi hingga pusat konsumsi secara lebih efektif transportasi dalam menjaga kesinambungan pasokan pangan," imbuhnya.
Siapa yang Diuntungkan
Petani dan peternak di Banyuwangi berpotensi mendapat kepastian jadwal angkut. Selama ini mereka bergantung pada truk yang kapasitasnya terbatas dan biayanya fluktuatif.
Pedagang di Jakarta juga berkepentingan pada kesinambungan pasokan. Sayur dan buah yang tiba lebih terjadwal membantu menekan risiko lonjakan harga akibat keterlambatan kiriman.
Bagi KAI Logistik, kontrak ini memperluas portofolio angkutan nonpeti kemas. Perusahaan sebelumnya mencatat pengelolaan 1,9 juta ton barang, dengan angkutan peti kemas sebagai kontributor terbesar.
Tantangan di Jalur Pangan
Komoditas segar menuntut penanganan berbeda dari barang industri. Suhu, kelembapan, dan waktu tempuh jadi faktor penentu kualitas saat barang sampai.
Penggunaan kontainer khusus menjadi jawaban atas persoalan itu. Namun kesiapan armada dan jadwal kereta di jalur selatan Jawa tetap menjadi pekerjaan rumah kedua pihak.
Perjanjian ini berjalan lima tahun lebih, cukup panjang untuk menguji apakah kereta bisa menjadi tulang punggung distribusi pangan antarpulau. Jika volume terealisasi, pola angkutan komoditas nasional bisa bergeser dari jalan raya ke rel.