INVESTORTALK.ID — Bursa saham Asia bergerak variatif pada Rabu (16/9/2026), dengan NZX 50 Selandia Baru memimpin penguatan 0,89% sementara FTSE Malaysia KLCI melemah 1,11%. Investor menahan posisi menjelang keputusan suku bunga The Fed yang dijadwalkan Kamis (17/9/2026) pukul 01.00 WIB. Pasar memperkirakan kenaikan 25 basis poin dengan probabilitas 92,4% versi CME FedWatch.
Pergerakan terbatas bursa Asia terjadi setelah lonjakan imbal hasil obligasi dan harga minyak global mulai mereda. Yield Treasury AS tenor 10 tahun turun tipis 0,8 basis poin menjadi 4,99%, setelah sehari sebelumnya menembus 5% untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
Di Wall Street, indeks S&P 500 ditutup turun 0,5% pada perdagangan sebelumnya, memperpanjang pelemahan dua hari berturut-turut. Tekanan datang dari yield Treasury yang menyentuh level tertinggi sejak 2007.
Siapa yang Menguat, Siapa yang Tertekan
Dari data Stock Indexes, NZX 50 Selandia Baru naik 0,89%, disusul KOSPI Korea Selatan 0,45% dan Taiwan Weighted Index 0,44%. Straits Times Singapura menguat 0,2%, sementara S&P/ASX 200 Australia naik tipis 0,08%.
Di kubu sebaliknya, Hang Seng Hong Kong melemah 0,08% dan Nikkei 225 Jepang turun 0,21%. FTSE Bursa Malaysia KLCI mencatat pelemahan terdalam 1,11%.
Indeks saham Asia-Pasifik di luar Jepang versi MSCI bergerak fluktuatif setelah melemah empat sesi berturut-turut. Indeks tersebut terakhir naik 0,2%, ditopang penguatan saham Korea Selatan.
Harga Minyak dan Dolar Masih Jadi Penghalang
Harga minyak Brent turun 0,6% menjadi US$108,08 per barel, setelah melonjak 2,9% pada perdagangan sebelumnya. Meski terkoreksi, harga minyak bertahan di atas US$100 per barel akibat kekhawatiran gangguan pasokan dari konflik Timur Tengah.
Indeks dolar AS bertahan di dekat level tertinggi dua pekan, yakni 99,656. Posisi dolar yang kuat membatasi ruang penguatan mata uang dan saham di kawasan Asia.
Yang Ditunggu Pasar Malam Ini
Keputusan suku bunga The Fed diumumkan Kamis (17/9/2026) pukul 01.00 WIB. Pasar memperkirakan kenaikan 25 basis poin dengan probabilitas 92,4%, berdasarkan CME FedWatch.
Pelaku pasar juga mencermati konferensi pers Ketua The Fed Kevin Warsh untuk mendapat petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya. Nada hawkish dari Warsh berpotensi menekan kembali yield Treasury dan memperkuat dolar.
Implikasi ke IHSG
Bagi pasar saham Indonesia, kombinasi pergerakan bursa Asia, yield Treasury, harga minyak, dan arah kebijakan The Fed menjadi sentimen yang memengaruhi IHSG hari ini. Yield Treasury yang bertahan mendekati 5% berisiko menarik aliran modal keluar dari pasar emerging, termasuk Indonesia.
Sementara harga minyak di atas US$100 per barel menambah tekanan pada biaya impor energi dan posisi rupiah. Investor ritel maupun institusi diperkirakan menahan posisi sampai arah kebijakan The Fed jelas.
Keputusan The Fed malam ini akan menentukan apakah bursa Asia, termasuk IHSG, mampu keluar dari fase fluktuatif atau justru menghadapi tekanan lanjutan.