INVESTORTALK.ID — Panel tiga hakim itu menyatakan gugatan Bergdahl di pengadilan sipil tidak sah secara yurisdiksi. Mantan prajurit itu sebelumnya mencoba menghapus vonis dengan alasan hukuman militernya melanggar hak proses hukum.
Asal Gugatan Bergdahl
Bergdahl mengajukan gugatan ke pengadilan sipil pada 2021. Ia berargumentasi bahwa hukuman dari pengadilan militer, yang dijatuhkan setelah ia mengaku bersalah, bertentangan dengan Amandemen Kelima.
Hakim Distrik Reggie Walton membatalkan vonis pada 2023 karena menilai Hakim Militer Jeffrey Nance tidak mengungkapkan lamarannya menjadi hakim imigrasi di Departemen Kehakiman. Walton menganggap hal itu menciptakan potensi konflik kepentingan.
Panel banding mengambil kesimpulan berbeda. Menurut Hakim Robert Wilkins, Bergdahl sebenarnya meminta pengadilan distrik menghapus putusan pengadilan militer dan seluruh akibatnya.
"Kewenangan untuk membatalkan putusan pengadilan militer berada pada pengadilan yang melakukan peninjauan banding langsung, bukan pengadilan distrik," tulis Wilkins dalam putusannya.
Perjalanan Kasus Bergdahl
Bowe Bergdahl berasal dari Hailey, Idaho. Pada Juni 2009, saat berusia 23 tahun, ia meninggalkan posnya di Provinsi Paktika, Afghanistan timur. Tim pembelanya mengatakan ia pergi untuk mendaki ke markas guna mengeluhkan kepemimpinan unit yang buruk.
Ia kemudian ditangkap oleh Haqqani Network, kelompok yang berafiliasi dengan Taliban, dan disiksa berulang kali. Bergdahl baru dibebaskan pada 2014 setelah pemerintahan Presiden Barack Obama menyetujui pertukaran tahanan – lima tahanan Taliban dari Penjara Teluk Guantanamo dilepas.
Kesepakatan itu dikritik keras kelompok konservatif. Donald Trump, yang dua tahun kemudian menjadi presiden, saat kampanye 2015 menyerukan hukuman mati bagi Bergdahl. Ia juga menyebut keputusan membebaskan Bergdahl dari penjara sebagai aib bagi negara.
Dakwaan, Pengakuan, dan Sikap Jaksa
Sejumlah prajurit AS terluka dalam operasi pencarian Bergdahl setelah ia meninggalkan posnya. Ia didakwa atas desertasi dan perilaku buruk di hadapan musuh, lalu mengaku bersalah pada 2017.
Jaksa militer semula menuntut hukuman 14 tahun penjara. Sumber yang ada tidak menyebut angka hukuman yang dijatuhkan, tetapi Bergdahl diberhentikan dari dinas secara tidak hormat.
Dengan putusan banding ini, upaya Bergdahl membatalkan vonis melalui pengadilan federal telah berakhir. Belum ada keterangan lanjutan mengenai kemungkinan upaya hukum lain dari Bergdahl.