Fintech Lending

Pembiayaan Fintech Lending Diprediksi Tetap Tumbuh Kuat 2026

Pembiayaan Fintech Lending Diprediksi Tetap Tumbuh Kuat 2026
Pembiayaan Fintech Lending Diprediksi Tetap Tumbuh Kuat 2026

JAKARTA - Pertumbuhan industri keuangan digital kembali menunjukkan sinyal positif menjelang 2026. 

Di tengah masih lebarnya celah pembiayaan dan tingginya kebutuhan dana dari masyarakat, fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar) dinilai tetap memiliki ruang ekspansi yang kuat. 

Meski arah pertumbuhan diperkirakan tidak seagresif tahun sebelumnya, pelaku dan pengamat sepakat bahwa peran fintech lending akan semakin relevan, khususnya bagi segmen yang belum terjangkau layanan perbankan.

Data terbaru menunjukkan bahwa sepanjang 2025, industri fintech lending mampu mempertahankan laju pertumbuhan yang tinggi. Kondisi ini menjadi pijakan optimisme bahwa kinerja pembiayaan masih berpotensi berlanjut pada 2026, meskipun dibayangi penyesuaian kebijakan dan tantangan kualitas pembiayaan.

Tren Pembiayaan Fintech Tetap Tumbuh Tinggi

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat outstanding pembiayaan fintech P2P lending melonjak signifikan sepanjang 2025. Per Desember 2025, outstanding pembiayaan pindar tercatat tumbuh 25,44% secara tahunan atau year on year menjadi Rp96,62 triliun. 

Capaian tersebut mencerminkan masih kuatnya permintaan terhadap layanan pembiayaan digital di tengah dinamika ekonomi nasional.

Pengamat sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai, tren pertumbuhan tersebut berpotensi berlanjut pada 2026. 

Menurutnya, masih besarnya credit gap dan kebutuhan pendanaan masyarakat menjadi faktor utama yang menopang kinerja industri fintech lending.

Permintaan pembiayaan tidak hanya datang dari individu, tetapi juga dari segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang selama ini menghadapi keterbatasan akses kredit perbankan. Fintech lending dinilai mampu mengisi ruang tersebut dengan proses yang lebih cepat dan fleksibel.

Proyeksi Pertumbuhan Dan Faktor Pendorong

Meski optimistis, Nailul memperkirakan laju pertumbuhan outstanding pembiayaan fintech lending pada 2026 cenderung melambat dibandingkan tahun sebelumnya. 

Ia memproyeksikan pertumbuhan berada di kisaran 15%, angka yang masih tergolong tinggi jika dibandingkan dengan target pertumbuhan kredit nasional.

"Prediksi dari Celios tumbuh di angka 15% pada 2026, atau lebih tinggi dibandingkan dengan target pertumbuhan kredit nasional yang hanya di angka 12% paling tinggi," ungkapnya.

Salah satu faktor yang membuat pertumbuhan berpotensi melambat adalah sikap kehati-hatian perbankan terhadap kredit berisiko. Kondisi ini membuat sebagian masyarakat, khususnya underbanked people baik UMKM maupun individu, kembali mengandalkan fintech lending sebagai alternatif pembiayaan.

Di sisi lain, adanya penyesuaian kebijakan OJK juga turut memengaruhi arah pertumbuhan. Pengetatan syarat pinjaman bagi borrower dinilai dapat menahan laju ekspansi pembiayaan, meskipun bertujuan menjaga stabilitas industri secara keseluruhan.

Kualitas Borrower Dan Risiko Kredit

Nailul menilai, pengetatan kebijakan seharusnya membawa dampak positif terhadap kualitas pembiayaan fintech lending. Dengan seleksi borrower yang lebih ketat, risiko kredit secara agregat diharapkan dapat ditekan.

Ia memperkirakan tingkat risiko kredit industri atau TWP90 pada 2026 berpotensi lebih rendah dibandingkan akhir 2025, yang sempat mencapai 4,32%. Perbaikan kualitas borrower menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan industri di tengah ekspansi yang terus berlangsung.

Menurutnya, keseimbangan antara pertumbuhan dan pengendalian risiko menjadi tantangan utama industri fintech lending ke depan. Pertumbuhan yang terlalu agresif tanpa diimbangi kualitas pembiayaan justru dapat menimbulkan tekanan jangka panjang.

Optimisme Industri Dan Tantangan Ke Depan

Sejalan dengan pandangan Celios, Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) juga melihat potensi pertumbuhan pembiayaan fintech P2P lending masih cukup besar pada 2026. 

Ketua Bidang Hubungan Masyarakat AFPI Kuseryansyah menyebut, tingginya permintaan masyarakat terhadap layanan pindar menjadi pendorong utama.

"Apalagi pinjaman daring segmen yang dilayani itu unbanked dan segmen unbanked di Indonesia itu tinggi, termasuk orang-orang yang dalam kategori first jobber atau UMKM yang baru. Jadi, kami meyakini bisa tetap tumbuh lebih tinggi," ungkapnya.

Kuseryansyah juga meyakini bahwa pertumbuhan industri pindar masih berpeluang melampaui pertumbuhan kredit nasional pada 2026. Sebagai perbandingan, OJK menargetkan pertumbuhan kredit perbankan nasional berada di kisaran 10%–12%.

"Kami juga meyakini bisa tetap tumbuh lebih tinggi dari pertumbuhan kredit nasional yang di target sekitar 10% sampai 12%," tuturnya.

Namun demikian, industri fintech lending tidak lepas dari berbagai tantangan. Selain dinamika geopolitik global, tingkat literasi masyarakat terhadap layanan pindar masih perlu terus ditingkatkan. Rendahnya pemahaman dapat meningkatkan risiko penyalahgunaan maupun kesalahpahaman terhadap produk pembiayaan digital.

Oleh karena itu, AFPI bersama para anggotanya berkomitmen untuk terus memperluas program literasi ke berbagai daerah sepanjang 2026. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman masyarakat sekaligus menjaga kepercayaan terhadap industri fintech lending secara berkelanjutan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index